Inflasi Indonesia tetap dalam target pemerintah, cabai memimpin tekanan harga pada Mei 2026

Inflasi Indonesia tetap dalam target pemerintah, cabai memimpin tekanan harga pada Mei 2026
Inflasi stabil, cabai naik

Laju inflasi tahunan Indonesia pada Mei 2026 tercatat 3,08 persen, masih berada dalam kisaran sasaran pemerintah sebesar 1,5 persen hingga 3,5 persen. Tekanan harga terutama datang dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, sementara stabilitas beras membantu menahan kenaikan yang lebih luas pada komoditas pokok.

Sorotan

  • Inflasi tahunan Indonesia pada Mei 2026 masih terkendali, didukung kenaikan harga makanan, minuman, tembakau, transportasi, dan jasa keuangan.
  • Cabai menyumbang andil tertinggi terhadap inflasi Mei 2026 dengan 0,08, diikuti minyak goreng yang harganya naik di 165 kabupaten/kota dan turun di 73 daerah.
  • Stabilitas harga beras terjaga berkat ketersediaan pasokan dari Kementerian Pertanian dan Perum Bulog, menurunkan peran beras sebagai pendorong inflasi utama.

Pendorong inflasi dan komoditas yang diwaspadai

Seperti dilaporkan Kompas.com, Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian menyatakan inflasi tahunan pada Mei 2026 masih relatif terkendali, mengacu pada data Badan Pusat Statistik yang dirilis pada 2 Juni 2026. Ia menyebut kenaikan inflasi ditopang oleh komponen makanan, minuman, dan tembakau, transportasi, serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan.

Dalam rincian komponen pangan, Tito mengatakan cabai menjadi penyumbang tertinggi terhadap kenaikan inflasi dengan andil 0,08, diikuti minyak goreng. Pernyataan itu disampaikan saat Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah di Gedung Sasana Bhakti Praja Kemendagri, Jakarta, pada Senin.

Tito juga menyoroti kenaikan harga sejumlah komoditas di daerah, termasuk bawang merah, cabai merah, cabai rawit, dan minyak goreng. Menurut dia, minyak goreng perlu mendapat perhatian khusus karena merupakan kebutuhan utama masyarakat, dengan 165 kabupaten dan kota mengalami kenaikan harga dan 73 daerah mengalami penurunan.

Peran pasokan beras dalam menjaga stabilitas harga

Tito menilai kenaikan inflasi kali ini tidak terjadi pada komoditas utama yang pada periode sebelumnya kerap menjadi pendorong terbesar, terutama beras. Kondisi itu membantu menjaga tekanan inflasi tetap berada dalam rentang target pemerintah meski sejumlah bahan pangan lain mengalami kenaikan.

Ia juga mengapresiasi Kementerian Pertanian dan Perum Bulog karena dinilai mampu menjaga ketersediaan pasokan beras sehingga harganya relatif stabil. Menurut Tito, beras yang biasanya masuk tiga besar penyumbang inflasi kini turun ke posisi keenam, menandakan pasokan komoditas pokok tersebut masih terjaga.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang inflasi Mei 2026 dan kondisi pasokan pangan, kami menyoroti bahwa ketersediaan pangan nasional dinilai aman menjelang periode hari besar sehingga tekanan harga tetap terkendali. Kami juga mencatat beras tidak lagi menjadi pemicu utama inflasi berkat pasokan yang stabil, sementara kenaikan pada komoditas seperti cabai, bawang merah, dan minyak goreng lebih banyak dipengaruhi faktor distribusi serta perlunya penguatan langkah stabilisasi di daerah.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.