IASC catat 579.459 laporan penipuan hingga Mei 2026, Jawa mendominasi kasus
Pusat pelaporan penipuan keuangan di Indonesia terus mencatat lonjakan aduan sejak mulai beroperasi pada 22 November 2024 hingga 31 Mei 2026. Sampai akhir Mei 2026, Indonesia Anti-Scam Centre menerima 579.459 laporan, dengan konsentrasi tertinggi berasal dari Pulau Jawa.
Sorotan
- IASC mencatat 579.459 laporan penipuan hingga Mei 2026, dengan Jawa menyumbang 404.502 laporan dan Jawa Barat tertinggi 119.750 laporan.
- Modus penipuan terbanyak adalah transaksi belanja (77.740 kasus), impersonation/fake call (47.269), penipuan investasi (26.649), dan penipuan kerja (23.910).
- Dari 998.558 rekening terkait penipuan, 51,63% atau 515.553 rekening diblokir dengan dana korban dibekukan Rp 638,9 miliar dan Rp 169,3 miliar telah dikembalikan.
Sebaran laporan dan modus penipuan utama
Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, Sekretariat Satgas PASTI Hudiyanto menyatakan Pulau Jawa menjadi wilayah dengan jumlah laporan penipuan tertinggi, yakni 404.502 laporan, disusul Pulau Sumatra 92.456 laporan dan Pulau Kalimantan 32.779 laporan.Di tingkat provinsi, Jawa Barat mencatat jumlah laporan terbesar per Mei 2026 dengan 119.750 laporan. Jakarta berada di posisi berikutnya dengan 84.845 laporan, lalu Jawa Timur 81.548 laporan, Jawa Tengah 66.402 laporan, dan Banten 40.458 laporan.
Hudiyanto mengatakan modus penipuan yang paling banyak dilaporkan adalah penipuan transaksi belanja sebanyak 77.740 kasus. Setelah itu, modus impersonation atau fake call mencapai 47.269 laporan, penipuan investasi 26.649 laporan, serta penipuan kerja 23.910 laporan.
Pemblokiran rekening dan dampaknya bagi pengawasan
Jumlah rekening terkait penipuan yang dilaporkan ke IASC mencapai 998.558 rekening dalam periode yang sama. Dari total tersebut, 515.553 rekening telah diblokir, atau setara 51,63% dari seluruh rekening yang dilaporkan.Total dana korban yang sudah diblokir mencapai Rp 638,9 miliar. IASC juga telah mengembalikan dana korban sebesar Rp 169,3 miliar, menunjukkan pemulihan dana masih menjadi fokus penting dalam penanganan penipuan keuangan.
Data ini menegaskan tekanan pengawasan terhadap penipuan digital masih besar, terutama di wilayah dengan aktivitas ekonomi dan penggunaan layanan keuangan yang tinggi seperti Pulau Jawa. Bagi sektor jasa keuangan, besarnya jumlah laporan dan rekening yang terindikasi terkait penipuan memperlihatkan kebutuhan penguatan koordinasi antara otoritas, perbankan, dan platform pembayaran.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang pergeseran ancaman keamanan di ekosistem aset kripto, kami menyoroti bagaimana pelaku kejahatan siber makin mengandalkan social engineering seperti phishing, deepfake, dan AI voice cloning untuk mengecoh pengguna. Kami juga mencatat tekanan bagi pelaku usaha untuk memperkuat edukasi serta perlindungan identitas, karena risiko kini lebih banyak datang dari manipulasi keputusan dan penyamaran identitas ketimbang sekadar peretasan sistem.
- Forex
- Crypto