Perbankan Indonesia waspadai tekanan likuiditas di tengah gejolak global
Likuiditas industri perbankan Indonesia mulai menunjukkan pengetatan ketika ketidakpastian global meningkat dan tren suku bunga naik. Per April 2026, rasio kredit terhadap dana pihak ketiga naik ke 86,8% sementara pertumbuhan dana pihak ketiga melambat menjadi 11,4% secara tahunan.
Sorotan
- Loan to deposit ratio perbankan Indonesia naik ke 86,8% pada April 2026, didorong perlambatan pertumbuhan dana pihak ketiga dan arus dana keluar akibat gejolak global.
- Bank-bank seperti CIMB Niaga dan Allo Bank memproyeksikan tekanan likuiditas berlanjut hingga akhir 2026, dengan persaingan dana meningkat dan cost of fund naik akibat kenaikan BI Rate.
- Strategi pendanaan bank fokus pada penguatan dana murah (CASA) dan selektivitas penyaluran kredit, dengan target LDR 80%-100% di tengah proyeksi pertumbuhan kredit sekitar 8,7%.
Data April 2026 dan pandangan bank
Seperti dilaporkan Kontan.co.id, data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan loan to deposit ratio industri perbankan naik menjadi 86,8% pada April 2026 dari 84,64% pada Maret 2026, ketika pertumbuhan dana pihak ketiga melambat dari 13,55% menjadi 11,4% secara tahunan.Chief Economist PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Myrdal Gunarto, mengatakan tekanan likuiditas mulai terasa sejak April 2026. Menurut dia, memburuknya sentimen global akibat lonjakan harga minyak dan meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah mendorong investor global melakukan aksi risk off, sehingga dana yang sebelumnya masuk ke negara berkembang seperti Indonesia mulai ditarik kembali dan mempengaruhi likuiditas domestik.
Myrdal menambahkan pembayaran dividen oleh sejumlah korporasi juga ikut memicu perpindahan dana ke luar negeri. Dalam kondisi ini, bank cenderung lebih selektif menyalurkan pembiayaan baru sambil menjaga posisi likuiditas, meski peluang pertumbuhan kredit masih terbuka pada sektor yang relatif tahan terhadap tekanan global seperti pangan, kebutuhan konsumsi harian, transportasi, dan perumahan.
Ia menilai insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial dari Bank Indonesia masih membantu menjaga likuiditas dan mendorong penyaluran kredit, dengan kontribusi terhadap pertumbuhan bisnis perbankan yang menurut perhitungannya dapat mencapai sekitar 8%. Myrdal memperkirakan pertumbuhan kredit tahun ini berada di kisaran 8,7%, sedangkan dana pihak ketiga diproyeksikan tumbuh sekitar 12,2%.
Dampak pada margin dan strategi pendanaan
Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk, Lani Darmawan, memperkirakan tekanan likuiditas industri masih berlanjut hingga akhir tahun, dengan likuiditas yang makin ketat dan cost of fund yang naik. Ia mengatakan tantangan perbankan tidak hanya datang dari sisi pendanaan, tetapi juga dari permintaan kredit yang masih relatif terbatas, kondisi yang berpotensi menekan margin bunga bersih karena pertumbuhan kredit saat ini lebih banyak berasal dari segmen korporasi dengan imbal hasil lebih rendah.Untuk menjaga likuiditas, CIMB Niaga tetap fokus memperkuat dana murah atau CASA melalui strategi payroll, cash management, rekening operasional perusahaan, dan tabungan dari segmen mass market. Perseroan menargetkan rasio LDR tetap di level 85%-90% hingga akhir tahun, sementara DPK CIMB Niaga mencapai Rp 326,2 triliun, naik 8,22% secara tahunan.
Direktur Risiko, Kepatuhan dan Hukum PT Allo Bank Indonesia Tbk, Ganda Raharja, juga mengatakan likuiditas mulai terasa semakin ketat sejak awal Juni 2026. Menurut dia, kenaikan BI Rate mendorong persaingan penghimpunan dana dan mengerek suku bunga penempatan dana maupun suku bunga pinjaman, sehingga bank tetap perlu menyalurkan kredit secara selektif sambil menjaga biaya dana tetap terkendali.
Allo Bank memperkirakan kondisi likuiditas ketat masih berlangsung hingga akhir tahun seiring ketidakpastian geopolitik global yang berpotensi mempengaruhi arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia, dengan target rasio LDR di kisaran 80%-100%. Sementara itu, PT Bank Oke Indonesia Tbk menilai likuiditas masih mendukung ekspansi bisnis, namun tetap mengakui kenaikan BI Rate meningkatkan persaingan penghimpunan dana dan biaya dana, sehingga bank mengutamakan pertumbuhan dana murah, penguatan basis nasabah, dan penyaluran kredit selektif untuk menjaga rasio LDR tetap sehat.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang tekanan likuiditas perbankan pada semester II-2026, kami mengulas kenaikan loan to deposit ratio (LDR) di tengah pertumbuhan kredit yang masih kuat saat penghimpunan dana makin menantang. Kami juga membahas bagaimana kenaikan BI Rate dan kebutuhan sumber dana baru dapat menekan biaya dana, memengaruhi NIM, serta membuat bank lebih selektif menjaga ekspansi kredit.
Berita AUD/USD Terbaru
- Forex
- Crypto