UOB Indonesia bidik penghimpunan dana Rp 4 triliun lewat obligasi dan obligasi subordinasi
Di tengah kebutuhan penguatan likuiditas dan permodalan perbankan, PT Bank UOB Indonesia menyiapkan penerbitan surat utang hingga Rp 4 triliun melalui dua skema penawaran umum berkelanjutan. Dana hasil emisi ini diarahkan untuk mendorong penyaluran kredit, sementara obligasi subordinasi juga menopang modal pelengkap atau Tier 2 sesuai ketentuan regulator.
Sorotan
- UOB Indonesia menargetkan penghimpunan dana Rp 4 triliun melalui PUB Obligasi Berkelanjutan V dan PUB Obligasi Subordinasi Berkelanjutan V, masing-masing Rp 2 triliun.
- UOB Indonesia mencatat laba bersih Rp 1,53 triliun pada 2025, naik dari Rp 406,24 miliar pada 2024, didukung pertumbuhan kredit 11,3% menjadi Rp 111,78 triliun.
- PT Fitch Ratings Indonesia menetapkan peringkat AAA(idn) untuk obligasi dan AA(idn) untuk obligasi subordinasi UOB Indonesia dalam penerbitan kali ini.
Rencana emisi dan jadwal penawaran 2026
Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, target penghimpunan dana itu terdiri dari masing-masing Rp 2 triliun dari PUB Obligasi Berkelanjutan V dan Rp 2 triliun dari PUB Obligasi Subordinasi Berkelanjutan V, sebagaimana tercantum dalam prospektus ringkas yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia, BEI.Pada tahap awal, perseroan menerbitkan Obligasi Berkelanjutan V Tahap I Tahun 2026 dengan nilai pokok maksimal Rp 100 miliar. Instrumen ini terbagi dalam tiga seri dengan tenor 370 hari kalender, tiga tahun, dan lima tahun.
UOB Indonesia juga menawarkan Obligasi Subordinasi Berkelanjutan V Tahap I Tahun 2026 dengan nilai pokok maksimal Rp 100 miliar, masing-masing bertenor tujuh tahun dan sepuluh tahun. Masa penawaran awal dijadwalkan berlangsung pada 22-24 Juni 2026, tanggal efektif ditargetkan pada 30 Juni 2026, distribusi obligasi secara elektronik pada 7 Juli 2026, dan pencatatan di BEI pada 8 Juli 2026.
Manajemen UOB Indonesia menyatakan seluruh dana hasil penerbitan, setelah dikurangi biaya emisi, akan dipakai untuk meningkatkan penyaluran kredit. Untuk obligasi subordinasi, dana tersebut juga ditujukan memperkuat struktur permodalan bank sebagai modal pelengkap, atau Tier 2.
Kinerja fundamental dan dukungan pemeringkatan
Dari sisi fundamental, kinerja UOB Indonesia menunjukkan perbaikan sepanjang 2025. Laba bersih perseroan naik menjadi Rp 1,53 triliun pada 2025 dari Rp 406,24 miliar pada tahun sebelumnya, ditopang peningkatan pendapatan operasional lainnya serta penurunan pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai, CKPN.Penyaluran kredit juga tumbuh 11,3% secara tahunan menjadi Rp 111,78 triliun pada akhir 2025, dibandingkan Rp 100,41 triliun pada 2024. Pada saat yang sama, kualitas aset membaik dengan rasio kredit bermasalah, atau NPL bruto, turun menjadi 1,8% dari 2,05% pada tahun sebelumnya.
Per akhir 2025, total aset UOB Indonesia mencapai Rp 170,5 triliun, naik 9,2% dibandingkan tahun sebelumnya. Dana pihak ketiga, DPK, juga meningkat menjadi Rp 133,31 triliun dari Rp 116,91 triliun pada 2024.
Dalam penerbitan ini, PT Fitch Ratings Indonesia memberikan peringkat AAA(idn) untuk obligasi dan AA(idn) untuk obligasi subordinasi UOB Indonesia. Perseroan menunjuk PT Indo Premier Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi, sementara PT Bank Mandiri (Persero) Tbk bertindak sebagai wali amanat.
Keputusan MSCI mempertahankan status pasar modal Indonesia sebagai emerging market dalam Market Classification Review 2026 sempat kami soroti sebagai faktor yang menenangkan kekhawatiran investor soal risiko “turun kelas”. Meski begitu, evaluasi MSCI tetap menyisakan catatan tentang transparansi kepemilikan saham dan indikasi coordinated trading, yang berpotensi memengaruhi persepsi risiko serta arus dana global menjelang peninjauan berikutnya pada November 2026.
- Forex
- Crypto