Bank syariah andalkan bisnis emas dan kualitas aset untuk dorong pertumbuhan 2026

Bank syariah andalkan bisnis emas dan kualitas aset untuk dorong pertumbuhan 2026
Emas dorong bank syariah

Perbankan syariah di Indonesia menjaga laju ekspansi dengan pendekatan yang lebih selektif di tengah tantangan ekonomi yang masih berlangsung. Strategi ini ikut menopang kenaikan pangsa pasar menjadi 7,51% hingga Maret 2026, sementara bisnis emas dan pembiayaan wholesale mulai muncul sebagai sumber pertumbuhan baru.

Sorotan

  • Bank syariah menguasai pangsa pasar 7,51% per Maret 2026 dengan pertumbuhan pembiayaan tahunan 9,82% dan fokus pada kualitas aset segmen mikro.
  • BRIS membukukan pertumbuhan dana pihak ketiga 17,99% dan laba bersih naik 17,1% di kuartal I-2026, didorong peningkatan bisnis emas dan segmen wholesale.
  • BTPS mencatat penurunan cost of fund ke 3,7% dan loan to deposit ratio turun ke 87,6%, harga saham ditutup di Rp 985 per 25 Juni dengan potensi naik ke Rp 1.200.

Pendorong pertumbuhan dan fokus ekspansi

KONTAN melaporkan, data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan pangsa pasar perbankan syariah hingga Maret 2026 mencapai 7,51%, naik dari kisaran 7% pada beberapa tahun terakhir. Pertumbuhan pembiayaan tercatat 9,82% secara tahunan, sementara pelaku industri lebih menekankan kualitas aset, disiplin penyaluran pembiayaan, serta pendampingan nasabah, terutama di segmen mikro dan ultra mikro.

Di sisi pendanaan, PT Bank Syariah Indonesia Tbk, BRIS, mencatat pertumbuhan dana pihak ketiga 17,99% pada kuartal I-2026. Sejumlah analis menilai prospek industri masih menarik tahun ini karena selain ditopang pertumbuhan pembiayaan yang solid, bank syariah juga mulai memperoleh dorongan dari bisnis emas yang semakin diminati di tengah ketidakpastian global.

BRIS mencatat laba bersih naik 17,1% pada kuartal I-2026, yang antara lain didorong lonjakan fee based income dari bisnis emas. Di saat yang sama, bank syariah juga memperluas fokus ke segmen wholesale dan korporasi, termasuk pembiayaan proyek infrastruktur, ekosistem BUMN, dan sektor produktif lain; pertumbuhan segmen wholesale tercatat 12,59%.

Dampak terhadap emiten syariah dan minat investor

Analis menilai BRIS tetap defensif dengan fundamental yang kuat, ditopang pertumbuhan pembiayaan yang konsisten, basis dana murah yang solid, dan posisi dominan di industri perbankan syariah nasional. Meski pergerakan sahamnya cenderung moderat, BRIS masih dinilai menarik bagi investor jangka menengah hingga panjang.

Sementara itu, PT Bank BTPN Syariah Tbk, BTPS, masih mengedepankan kualitas pembiayaan ketimbang pertumbuhan agresif. Perseroan tidak secara signifikan menaikkan rata-rata nilai pembiayaan, dan tetap fokus pada pengelolaan risiko, edukasi, pemberdayaan, serta pemantauan kualitas pembayaran, sembari menyiapkan diversifikasi produk bagi nasabah yang berkembang di dalam ekosistemnya.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Nauran Reyhan Muchlis, dalam riset akhir Mei menilai tekanan margin masih menjadi tantangan utama bagi BTPS tahun ini. Namun, ia melihat perbaikan kualitas aset dan likuiditas sebagai faktor positif, dengan cost of fund turun ke 3,7%, cost of credit menjadi 5,3%, dan rasio loan to deposit ratio turun ke 87,6%; BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga Rp 1.400 per saham serta memperkirakan laba bersih 2026 sekitar Rp 1,35 triliun.

Dari sisi teknikal, Bahana Sekuritas menilai BTPS perlu menembus area Rp 990 hingga Rp 1.000 untuk mengonfirmasi penguatan awal, dengan peluang menuju Rp 1.040. YB Sekuritas juga melihat BTPS masih menarik untuk investasi jangka menengah hingga panjang dan memperkirakan saham ini berpotensi mencapai Rp 1.200 dalam dua hingga tiga bulan; pada perdagangan Kamis, 25 Juni, BTPS ditutup di Rp 985 per saham, naik 1,03%, sedangkan BRIS berada di Rp 1.785 per saham, melonjak 5% dibanding sehari sebelumnya.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang likuiditas dan permodalan perbankan per April 2026, kami menyoroti penilaian OJK bahwa ruang likuiditas dan modal bank masih kuat untuk menopang ekspansi kredit meski pasar global bergejolak. Namun OJK juga mengingatkan peningkatan risiko kredit akibat pelemahan daya beli, inflasi, dan ancaman PHK, terutama pada segmen UMKM dan kredit konsumsi, sehingga perbankan diminta lebih selektif dalam penyaluran pinjaman.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.