OJK nilai likuiditas perbankan tetap memadai di tengah volatilitas global

OJK nilai likuiditas perbankan tetap memadai di tengah volatilitas global
Likuiditas bank tetap kuat

Industri perbankan Indonesia memasuki kuartal II-2026 dengan likuiditas dan permodalan yang dinilai masih kuat meski pasar keuangan global bergejolak dan rupiah menghadapi tekanan. OJK menyebut ruang likuiditas yang tersedia masih cukup untuk menopang ekspansi kredit, namun bank tetap diminta mewaspadai risiko pada segmen UMKM dan konsumsi.

Sorotan

  • OJK melaporkan rasio Loan to Deposit perbankan April 2026 sebesar 86,88%, AL/NCD 111,13%, dan AL/DPK 25,39%, jauh di atas batas regulator.
  • Capital Adequacy Ratio perbankan mencapai 23,97% pada April 2026, cukup untuk menyerap risiko ekonomi global dan domestik, dengan NPL tetap di level 2,17%.
  • OJK menilai risiko kredit UMKM dan konsumsi meningkat akibat daya beli melemah, inflasi, dan PHK, sehingga perbankan akan lebih selektif menyalurkan pinjaman.

Indikator likuiditas dan permodalan per April 2026

Seperti dilaporkan KONTAN, Otoritas Jasa Keuangan menyatakan kinerja industri perbankan hingga kuartal II-2026 tetap solid dengan dukungan likuiditas yang memadai dan modal yang kuat, menurut Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae.

Pada April 2026, Loan to Deposit Ratio perbankan tercatat 86,88%. Sementara itu, rasio Alat Likuid terhadap Non-Core Deposit mencapai 111,13% dan Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga sebesar 25,39%, masing-masing jauh di atas ambang batas regulator 50% untuk AL/NCD dan 10% untuk AL/DPK.

OJK menilai posisi tersebut menunjukkan perbankan masih memiliki ruang likuiditas yang cukup untuk mendukung pertumbuhan kredit ke depan. Dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio mencapai 23,97% pada April 2026, yang dinilai memadai untuk menyerap risiko dari ketidakpastian ekonomi global dan domestik.

Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan berada di level 2,17%, sedangkan Loan at Risk tercatat 8,82%. OJK menyatakan tidak ada tren kenaikan NPL yang signifikan pada sektor-sektor produktif utama penopang kredit perbankan.

Risiko kredit dan langkah mitigasi OJK

Meski indikator utama masih sehat, OJK mengingatkan adanya sejumlah risiko yang dapat menekan kualitas kredit ke depan, termasuk penurunan daya beli masyarakat, ancaman pemutusan hubungan kerja, dan risiko inflasi akibat gejolak ekonomi global maupun domestik.

Menurut OJK, kondisi itu dapat meningkatkan risiko kredit terutama pada segmen usaha mikro, kecil, dan menengah serta kredit konsumsi, yang lebih sensitif terhadap perubahan kondisi ekonomi. Peningkatan risiko ekonomi juga berpotensi membuat perbankan lebih selektif dalam menyalurkan pinjaman, sehingga dapat mempengaruhi laju pertumbuhan kredit industri hingga akhir tahun.

Untuk mengantisipasi tekanan tersebut, OJK secara rutin melakukan stress test bersama industri perbankan dengan berbagai skenario ekonomi, pasar keuangan, dan politik, baik global maupun domestik. Hasil pengujian itu menunjukkan tingkat permodalan perbankan saat ini masih memadai untuk menghadapi perubahan signifikan pada kondisi makroekonomi Indonesia.

OJK juga terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas lain dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan untuk menjaga stabilitas sektor keuangan. Lembaga itu menyatakan bauran kebijakan, pemantauan, dan langkah mitigasi terus diperkuat agar stabilitas sistem keuangan tetap terjaga secara sehat dan berkelanjutan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Dalam artikel kami sebelumnya, OJK mengingatkan perbankan untuk mewaspadai penurunan daya beli masyarakat, ancaman PHK, dan risiko inflasi yang dapat meningkatkan risiko kredit, terutama pada segmen UMKM dan kredit konsumsi. Namun, OJK menilai kondisi per April 2026 masih relatif terjaga, tercermin dari NPL 2,17% dan LAR 8,82% serta dukungan likuiditas dan permodalan yang tetap kuat.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.