OJK menilai dampak DHE SDA 100% ke likuiditas valas bank belum terlihat
Likuiditas valuta asing perbankan nasional dinilai masih stabil pada tahap awal penerapan kewajiban penempatan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam sebesar 100%. Aturan itu baru efektif sejak 1 Juni 2026, sehingga penyesuaian terhadap simpanan valas bank diperkirakan baru terlihat dalam beberapa bulan ke depan.
Sorotan
- OJK menilai dampak kebijakan DHE SDA 100% ke likuiditas valas perbankan belum dapat diukur akurat karena implementasi masih baru.
- Dana pihak ketiga valas tumbuh Rp 28,02 triliun atau 1,74% secara bulanan per April 2026, mencapai Rp 1.639 triliun.
- Kelonggaran likuiditas valas didominasi deposito berbiaya tinggi, namun pertumbuhan penempatan DHE SDA ke depan berpotensi menurunkan ketergantungan pada dana mahal.
Kondisi likuiditas valas pada awal implementasi
Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan menyatakan dampak penuh kebijakan DHE SDA 100% terhadap likuiditas valas perbankan belum dapat diukur secara akurat karena implementasinya masih relatif baru.Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan likuiditas valas perbankan berada pada level stabil selama 2026. Per April 2026, dana pihak ketiga valas tumbuh Rp 28,02 triliun, atau 1,74% secara bulanan, menjadi Rp 1.639 triliun.
Dian juga menyatakan OJK sebelumnya telah menerbitkan surat kepada industri perbankan yang menegaskan penempatan dana DHE SDA tidak memengaruhi perlakuan prudensial selama memenuhi kriteria yang ditetapkan regulator. Dengan demikian, dana DHE SDA tetap dapat diperhitungkan dalam pengelolaan rasio likuiditas bank tanpa menambah tekanan prudensial.
Dampak bagi struktur pendanaan perbankan
Chief Economist PT Bank Tabungan Negara Tbk, Myrdal Gunarto, menilai likuiditas valas perbankan saat ini masih relatif longgar dan terjaga. Ia mengatakan Posisi Devisa Neto industri perbankan masih berada dalam posisi net long, yang menunjukkan aset valas bank secara umum masih lebih besar daripada kewajiban valasnya.Ia juga melihat tren penurunan transaksi valas di Pasar Uang Antar Bank, yang mengindikasikan banyak bank masih memiliki cadangan likuiditas valas internal yang memadai dan tidak terlalu bergantung pada pinjaman antarbank. Namun, ia mengingatkan bahwa kelonggaran likuiditas valas saat ini masih didominasi dana berbiaya tinggi, terutama deposito valas.
Menurut Myrdal, apabila penempatan dana DHE SDA terus meningkat dalam beberapa bulan ke depan, perbankan berpotensi memperoleh sumber likuiditas valas yang lebih stabil. Kondisi itu dapat membantu menurunkan ketergantungan pada deposito valas berbiaya mahal dan memperbaiki efisiensi struktur pendanaan valas bank.
Dalam laporan kami sebelumnya tentang pertumbuhan DPK valas perbankan pada Mei 2026, kami menyoroti bahwa simpanan valuta asing meningkat lebih cepat daripada simpanan rupiah di tengah tekanan terhadap rupiah. Kami juga mencatat proyeksi DPK valas industri yang masih kuat hingga akhir 2026 serta menekankan di level bank—termasuk BRI—kenaikan DPK valas lebih dipicu kebutuhan intermediasi dan lindung nilai, bukan perilaku spekulatif, dengan porsi valas yang tetap relatif terbatas.
Berita OJK Terbaru
- Forex
- Crypto