Ashutosh Sureka

DPK perbankan Indonesia ditopang lonjakan simpanan valas saat rupiah melemah

DPK perbankan Indonesia ditopang lonjakan simpanan valas saat rupiah melemah
DPK melonjak lewat valas

Pertumbuhan dana pihak ketiga perbankan menguat pada Mei 2026 ketika tekanan terhadap rupiah mendorong pergeseran penempatan dana masyarakat dan korporasi. Di tengah kondisi itu, simpanan valuta asing tumbuh jauh lebih cepat daripada simpanan rupiah, menandakan naiknya kebutuhan lindung nilai dan penahanan aset dalam dolar AS.

Sorotan

  • DPK valas industri perbankan Indonesia diperkirakan tumbuh sekitar 10,38% hingga akhir 2026, namun laju ini bisa melambat jika tekanan dolar AS mereda.
  • Kenaikan BI Rate ke 5,75% serta optimalisasi instrumen Sekuritas Rupiah dan DNDF diarahkan untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah fluktuasi dolar AS.
  • Hingga Mei 2026, DPK CIMB Niaga naik 8,21% yoy menjadi Rp 326,24 triliun, sementara DPK valas BRI tumbuh 9,82% yoy meski porsi valas masih kecil.

Dampak bagi strategi pendanaan bank

Myrdal memperkirakan laju pertumbuhan DPK valas berpotensi melambat pada paruh kedua 2026 jika tekanan terhadap dolar AS mereda. Ia menilai kenaikan BI Rate menjadi 5,75%, optimalisasi instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia dan Domestic Non-Deliverable Forward dapat membantu menjaga stabilitas rupiah, sementara pelonggaran sikap The Fed berpotensi membalikkan tren penguatan dolar AS.

Dengan asumsi itu, ia memperkirakan pertumbuhan DPK valas industri perbankan berada di kisaran 10,38% hingga akhir 2026. Jika dolar mulai melemah, kebutuhan akumulasi valas dinilai berkurang sehingga porsi simpanan valas dapat kembali menurun.

Di tingkat bank, Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk, Lani Darmawan, mengakui DPK valas di banknya naik, tetapi perseroan tetap memprioritaskan penghimpunan dana rupiah agar selaras dengan kebutuhan penyaluran kredit. Hingga Mei 2026, DPK CIMB Niaga tercatat Rp 326,24 triliun, tumbuh 8,21% yoy dari Rp 301,48 triliun pada periode yang sama tahun lalu, dengan dana valas mayoritas berasal dari nasabah eksportir dan importir.

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk juga mencatat pertumbuhan simpanan valas, meski porsinya masih kecil dibandingkan dana rupiah. Head of Liquidity and Funding Management Group BRI, Teguh Sulistyono, mengatakan DPK valas BRI tumbuh 9,82% yoy hingga Mei 2026, sedangkan DPK rupiah naik 8,38% yoy; namun pelemahan rupiah sejauh ini belum berdampak signifikan pada perilaku nasabah ritel BRI, dan pertumbuhan dana valas lebih banyak dipengaruhi kebutuhan intermediasi perbankan daripada faktor spekulatif.

Dalam laporan kami sebelumnya tentang pertumbuhan DPK valas BRI hingga Mei 2026, kami mencatat simpanan valas naik 9,82% yoy sementara DPK rupiah tumbuh 8,38% yoy. Kami juga menekankan bahwa porsi valas masih terbatas karena fokus BRI pada segmen mikro dan penghimpunan dana tetap diprioritaskan pada rupiah, serta pelemahan rupiah belum mendorong perilaku spekulatif nasabah ritel karena kenaikan DPK valas lebih dipicu kebutuhan intermediasi.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.