Di tengah fluktuasi nilai tukar, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk mencatat pertumbuhan dana pihak ketiga valas sebesar 9,82% secara tahunan hingga Mei 2026. Kenaikan ini terjadi saat porsi simpanan valas masih lebih kecil dibandingkan dana rupiah, sejalan dengan fokus bisnis BRI pada segmen mikro.
Sorotan
- DPK valas BRI tumbuh 9,82% yoy hingga Mei 2026, sedangkan DPK rupiah naik 8,38% yoy dan total DPK bertambah 8,61% yoy.
- Kontribusi DPK valas terhadap total simpanan masih terbatas karena fokus BRI pada segmen mikro dan penghimpunan dana prioritas tetap di simpanan rupiah.
- Pelemahan rupiah belum berdampak signifikan pada pertumbuhan simpanan valas BRI, dengan kebutuhan intermediasi kredit berbasis rupiah tetap dominan.
Strategi penghimpunan dana hingga Mei 2026
Seperti dilaporkan KONTAN, Head of Liquidity and Funding Management Group BRI Teguh Sulistyono mengatakan DPK valas BRI tumbuh 9,82% yoy hingga Mei 2026, sementara DPK rupiah naik 8,38% yoy dan total DPK perseroan bertambah 8,61% yoy.Ia menjelaskan kontribusi DPK valas terhadap total simpanan tetap terbatas karena BRI berfokus pada segmen mikro, sehingga konsentrasi utama penghimpunan dana masih berada pada simpanan rupiah.
Menurut Teguh, perseroan juga menjaga laju penghimpunan dana secara selektif dan menyesuaikannya dengan kebutuhan bisnis. BRI tidak menghimpun dana secara agresif, melainkan mengutamakan efisiensi biaya dana agar pertumbuhan simpanan tetap sejalan dengan kebutuhan penyaluran kredit.
Dampak kurs dan kebutuhan intermediasi
Teguh menilai pelemahan rupiah dalam beberapa waktu terakhir belum memberikan dampak berarti terhadap pertumbuhan simpanan valas BRI. Transaksi penukaran valas di segmen ritel juga belum menunjukkan kenaikan signifikan akibat sentimen nilai tukar, sehingga belum terlihat indikasi masyarakat beralih menyimpan dana dalam valas untuk tujuan spekulatif.Ia menambahkan pertumbuhan DPK valas lebih banyak dipengaruhi kebutuhan intermediasi perbankan, yakni penyesuaian penghimpunan dana dengan kebutuhan penyaluran kredit. Karena mayoritas portofolio kredit BRI masih berbasis rupiah, kebutuhan pendanaan valas perseroan juga tetap relatif terbatas.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang penyaluran kredit perbankan lewat skema channeling, kami menyoroti bahwa nilainya masih tinggi hingga April 2026, namun bank kian berhati-hati dalam memilih mitra penyalur. Kami juga mengulas pergeseran fokus industri dari mengejar volume ke penguatan tata kelola, pengawasan penggunaan dana, dan mitigasi risiko, termasuk langkah sejumlah bank yang membatasi kerja sama channeling melalui platform digital.
Berita Bank Indonesia Terbaru
- Forex
- Crypto