Bank pensiunan menjaga pertumbuhan kredit di tengah risiko daya beli

Bank pensiunan menjaga pertumbuhan kredit di tengah risiko daya beli
Kredit pensiunan tetap tumbuh

Segmen kredit pensiunan masih dipandang menarik bagi perbankan karena basis nasabah yang besar dan ruang penetrasi yang belum sepenuhnya tergarap. Di saat pemulihan daya beli masyarakat belum merata, laju bisnis ini tetap tumbuh namun makin menuntut selektivitas agar kualitas aset terjaga.

Sorotan

  • Bank BPD DIY membukukan outstanding kredit pensiunan sebesar Rp 836 miliar per Mei 2026, tumbuh 0,93% YoY karena pelemahan daya beli dan kehati-hatian nasabah.
  • Bank Mandiri Taspen mencatat penyaluran kredit pensiunan Rp 50,9 triliun per Maret 2026, naik 9,1% YoY, dengan pertumbuhan nasabah 18,6% menjadi 648.000 orang.
  • Rasio NPL kredit pensiunan Bank Mandiri Taspen turun ke 0,71%, menargetkan 0,5%-0,8% sepanjang 2026, dengan target pertumbuhan kredit 10% menjadi Rp 55,4 triliun.

Pertumbuhan kredit dan strategi bank

KONTAN Indonesia melaporkan, Bank BPD DIY saat ini mengelola pembayaran gaji sekitar 45.000 pensiunan, namun baru sekitar 30% dari total nasabah tersebut yang memanfaatkan fasilitas kredit pensiunan.

Direktur Kepatuhan Bank BPD DIY Agus Trimurjanto mengatakan masih ada potensi yang dapat digali dari basis nasabah itu. Meski begitu, hingga Mei 2026 outstanding kredit pensiunan bank tersebut tercatat sekitar Rp 836 miliar, atau tumbuh 0,93% secara tahunan. Menurut dia, pertumbuhan yang terbatas dipengaruhi pelemahan daya beli dan meningkatnya kehati-hatian pensiunan dalam mengambil pinjaman baru.

Di sisi lain, PT Bank Mandiri Taspen masih membukukan pertumbuhan yang lebih agresif di segmen ini. Direktur Utama Bank Mandiri Taspen Panji Irawan mengatakan bisnis pensiunan tetap memiliki prospek besar meski persaingan makin ketat dengan bertambahnya pemain baru.

Hingga Maret 2026, Bank Mandiri Taspen mencatat jumlah nasabah pensiunan ASN dan TNI/Polri mencapai 648.000 orang, naik sekitar 101.000 orang atau 18,6% secara tahunan. Penyaluran kredit pensiunan mencapai Rp 50,9 triliun, tumbuh 9,1% YoY, ditopang optimalisasi konversi nasabah non-kredit, pengembangan produk inovatif, program cross selling, dan penyederhanaan proses kredit.

Daya tahan aset dan prospek industri

Dari sisi kualitas aset, kredit pensiunan Bank BPD DIY masih terjaga dengan rasio kredit bermasalah gross sebesar 1,5%. Jika kondisi ekonomi belum membaik hingga akhir tahun, bank itu memperkirakan pertumbuhan kredit pensiunan hanya berada di kisaran 3% secara tahunan.

Bank Mandiri Taspen mencatat rasio NPL sebesar 0,71% hingga Maret 2026, masih jauh di bawah ambang batas regulator sebesar 5%. Perseroan menargetkan rasio NPL tetap berada di kisaran 0,5% hingga 0,8% sepanjang tahun ini melalui prinsip kehati-hatian dan penyaluran kredit yang selektif.

Bank Mandiri Taspen juga menyebut sebagian besar kredit pensiunan tidak hanya dipakai untuk kebutuhan konsumtif, tetapi juga aktivitas produktif. Melalui program Mantap Sejahtera, bank ini mengembangkan kewirausahaan pensiunan lewat pelatihan bisnis, pendampingan usaha, akses pembiayaan, dan dukungan pemasaran digital.

Untuk tahun ini, Bank Mandiri Taspen menargetkan kredit pensiunan tumbuh sekitar 10% secara tahunan menjadi Rp 55,4 triliun. Secara industri, data itu menunjukkan segmen pensiunan masih menawarkan ruang ekspansi, tetapi laju pertumbuhan tiap bank sangat bergantung pada kekuatan daya beli nasabah, kedisiplinan seleksi kredit, dan kemampuan menjaga loyalitas nasabah.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang kredit channeling perbankan, kami mencatat penyalurannya masih tinggi hingga April 2026 dengan nilai Rp108,67 triliun menurut OJK, namun bank makin mengutamakan kualitas dibanding mengejar volume. Kami juga menyoroti pergeseran strategi industri yang lebih selektif memilih mitra penyalur dan memperketat mitigasi risiko tata kelola serta pengawasan penggunaan dana.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.