Ashutosh Sureka

Pengemudi ojol Jakarta beralih ke Pertalite setelah kenaikan harga Pertamax

Pengemudi ojol Jakarta beralih ke Pertalite setelah kenaikan harga Pertamax
Ojol pilih Pertalite murah

Kenaikan harga Pertamax sejak 10 Juni 2026 mendorong sebagian pengemudi ojek online di Jakarta menyesuaikan pola belanja bahan bakar untuk menekan biaya harian. Perubahan ini terutama terasa bagi pengendara yang mengandalkan sepeda motor sebagai alat kerja dan memiliki anggaran operasional tetap setiap hari.

Sorotan

  • Kenaikan harga Pertamax dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter mendorong sebagian pengemudi ojol Jakarta beralih ke Pertalite yang tetap Rp 10.000 per liter.
  • Biaya operasional harian pengemudi seperti Iwan meningkat signifikan karena Rp 50.000 hanya cukup mengisi sekitar 3 liter Pertamax pasca kenaikan harga.
  • Perubahan harga BBM nonsubsidi langsung mengubah struktur biaya dan konsumsi energi pekerja transportasi informal, memengaruhi efisiensi dan keputusan bahan bakar harian.

Peralihan konsumsi BBM setelah harga naik

Seperti dilaporkan Kompas.com, kenaikan harga Pertamax dari Rp 12.300 per liter menjadi Rp 16.250 membuat sebagian pengemudi beralih ke Pertalite yang tetap seharga Rp 10.000 per liter. Salah satunya Iwan, pengemudi ojol di Jakarta Pusat, yang mengaku sudah hampir dua pekan menggunakan Pertalite setelah sempat bertahan memakai Pertamax selama dua hari sejak harga baru berlaku.

Iwan mengatakan motornya berkapasitas 125 cc dan idealnya menggunakan Pertamax. Sebelum penyesuaian harga, Rp 50.000 masih cukup untuk mengisi tangki hingga penuh, dengan daya tempuh operasional sekitar satu setengah hari untuk menarik penumpang.

Setelah harga Pertamax naik, nilai Rp 50.000 menurutnya hanya cukup untuk mengisi sekitar 3 liter lebih sedikit. Dengan volume itu, ia harus kembali mengisi bensin pada malam hari, sehingga biaya operasional harian menjadi lebih berat dibanding sebelumnya.

Dampak pada biaya kerja pengemudi

Peralihan ke Pertalite membuat anggaran bensin harian sebesar Rp 50.000 kembali mencukupi kebutuhan operasional motor Iwan. Ia menyesuaikan pilihan BBM dengan pemasukan hariannya sebagai pengemudi ojol, sehingga selisih harga per liter menjadi faktor utama dalam keputusan pembelian.

Kisah ini menunjukkan kenaikan harga BBM nonsubsidi langsung memengaruhi struktur biaya pekerja sektor transportasi informal di Jakarta. Bagi pengemudi yang pendapatannya bergantung pada jumlah perjalanan harian, perubahan harga energi dapat segera mengubah pilihan konsumsi dan efisiensi kerja.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang kenaikan harga Pertamax di Jakarta, kami membahas bagaimana lonjakan harga ke Rp 16.250 per liter mendorong pengemudi ojek online dan pekerja harian menyesuaikan konsumsi BBM. Sejumlah pengguna beralih ke Pertalite untuk menekan pengeluaran harian, sementara sebagian lain tetap memakai Pertamax karena pertimbangan performa mesin dan efisiensi kerja meski biaya operasional meningkat.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.