Rupiah menguat tipis ke Rp17.922 per dolar U.S. di tengah sentimen geopolitik dan inflasi

Rupiah menguat tipis ke Rp17.922 per dolar U.S. di tengah sentimen geopolitik dan inflasi
Rupiah menguat di tengah gejolak

Pergerakan rupiah pada akhir perdagangan Jumat mencerminkan respons pasar terhadap kombinasi tekanan eksternal dan perubahan ekspektasi suku bunga global. Mata uang Garuda ditutup menguat 21 poin atau sekitar 0,12 persen ke level Rp17.922 per dolar U.S. pada 25 Juni 2026.

Sorotan

  • Rupiah menguat tipis ke Rp17.922 per dolar U.S. didorong sentimen geopolitik di Oman dan Selat Hormuz serta rilis inflasi U.S.
  • Inflasi PCE inti U.S. naik menjadi 3,4% yoy pada Mei dari 3,3% di April, sedangkan inflasi utama mencapai 4,1%, tertinggi dalam setahun terakhir.
  • Pasar memperkirakan penurunan peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve tahun ini akibat data inflasi dan dinamika pasokan energi global.

Sentimen eksternal dorong pergerakan kurs

Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, penguatan rupiah terjadi ketika pelaku pasar mencermati risiko geopolitik di sekitar Oman dan Selat Hormuz serta data inflasi terbaru dari U.S.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan salah satu sentimen berasal dari insiden kapal kargo yang terkena proyektil tak dikenal di dekat Oman, yang kemudian mendorong badan pelayaran PBB menangguhkan skema evakuasi sukarela. Dua pejabat U.S. mengatakan kepada Reuters bahwa Iran menembaki kapal kargo itu saat mencoba melintasi selat.

Dalam risetnya, Ibrahim menulis otoritas Iran menyatakan keamanan kapal yang melintas di luar rute Hormuz yang telah ditentukan tidak terjamin. Data pada Kamis juga menunjukkan pengiriman minyak mentah melalui Selat Hormuz meningkat pekan ini ke level tertinggi sejak konflik U.S.-Israel dengan Iran dimulai pada Februari, setelah kesepakatan gencatan senjata membuka kembali jalur air tersebut.

Dampak inflasi U.S. dan pasokan energi

Meski arus pengiriman melalui Selat Hormuz meningkat, lalu lintas keseluruhan masih jauh di bawah rata-rata harian 125 kapal sebelum konflik 28 Februari dimulai. Di saat yang sama, gempa bumi di Venezuela pada Kamis turut menambah kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Biro Analisis Ekonomi U.S. melaporkan inflasi PCE inti naik menjadi 3,4% secara tahunan pada Mei dari 3,3% pada April, sementara secara bulanan tetap di 0,3%. Inflasi PCE utama juga naik menjadi 4,1% secara tahunan dari 3,8%, menjadi level tahunan tertinggi sejak April 2023 dan Oktober 2023.

Menurut alat CME FedWatch, reaksi pasar terhadap data PCE menunjukkan sedikit penurunan taruhan untuk kenaikan suku bunga Federal Reserve tahun ini dan sedikit peningkatan ekspektasi bahwa bank sentral mempertahankan suku bunga tetap stabil. Pergeseran ekspektasi ini menjadi salah satu faktor yang ikut membentuk arah perdagangan mata uang emerging markets, termasuk rupiah.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang pelemahan harga minyak di tengah insiden kapal kargo dekat Oman dan Selat Hormuz, kami mencatat Brent dan WTI turun sekitar 2% karena pelaku pasar lebih menitikberatkan pada membaiknya aliran pasokan dari Teluk daripada risiko keamanan terbaru. Kami juga menyoroti bahwa percepatan arus tanker setelah kemajuan diplomatik serta dinamika kuota OPEC membuat narasi pasokan mengalahkan kekhawatiran gangguan jalur energi.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.