Sensus Ekonomi 2026 hadapi resistensi warga di Jakarta Utara
Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 di permukiman padat Sunter Agung, Jakarta Utara, memperlihatkan tantangan lapangan saat petugas mendata rumah tangga dari rumah ke rumah. Selain harus menjangkau gang sempit dan hunian kos, petugas juga menghadapi respons warga yang beragam, mulai dari kaget hingga bersikap sinis.
Sorotan
- Petugas lapangan Sensus Ekonomi 2026 ditargetkan mendata lebih dari 620 rumah di Sunter Agung, Tanjung Priok, Jakarta Utara, antara 15 Juni–15 Agustus 2026.
- Pendataan mencakup pertanyaan terkait kepemilikan usaha, sumber modal, pencatatan pendapatan, kondisi kesehatan, hingga pengeluaran rumah tangga dan usaha.
- Respons warga terhadap pendataan bervariasi dari penerimaan hingga resistensi, menimbulkan tantangan operasional bagi kualitas dan kelancaran sensus ekonomi di wilayah padat perkotaan.
Tugas lapangan dan cakupan pendataan
Seperti dilaporkan Kompas.com, petugas lapangan Sensus Ekonomi 2026 di Sunter Agung menyusuri permukiman padat untuk mendata kondisi ekonomi warga secara langsung. Dzulfikri, mahasiswa tingkat akhir Politeknik Statistika STIS, menjalankan pendataan dengan didampingi anggota Dasa Wisma setempat pada Jumat, 26 Juni 2026.Dalam kunjungan ke rumah warga dan rumah kos, ia mengajukan pertanyaan mengenai kepemilikan usaha, sumber modal, pencatatan pendapatan, kondisi kesehatan, pengeluaran makan, biaya tempat tinggal, tagihan listrik, hingga total pengeluaran tahunan. Jawaban warga kemudian dimasukkan ke aplikasi pendataan di telepon genggam.
Dzulfikri bertanggung jawab mendata lebih dari 620 rumah di wilayah Sunter Agung, Tanjung Priok, Jakarta Utara, untuk periode 15 Juni hingga 15 Agustus 2026. Aktivitas ini menjadi bagian dari operasi lapangan sensus yang menuntut jangkauan luas di kawasan padat penduduk.
Dinamika respons warga dan implikasi pendataan
Interaksi dengan warga berlangsung beragam selama proses pendataan. Sebagian warga menerima dengan santai, termasuk pelaku usaha kecil seperti penjual nasi uduk yang menjelaskan bahwa keuntungan harian tidak dicatat karena langsung dipakai kembali untuk belanja usaha dan kebutuhan lain.Namun, Dzulfikri mengatakan tidak semua warga merespons dengan cara yang sama. Ia mengaku menemui warga yang terkejut dengan kedatangan petugas, ada yang memandang sinis, dan ada pula yang justru menyambut baik karena ingin didata.
Variasi respons tersebut menunjukkan tantangan operasional dalam pengumpulan data ekonomi rumah tangga, terutama di lingkungan padat perkotaan. Bagi pelaksanaan sensus, penerimaan warga menjadi faktor penting untuk menjaga kelancaran pendataan dan mutu informasi yang dikumpulkan.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang tantangan Sensus Ekonomi 2026 di Jakarta Barat, kami mengulas bagaimana petugas lapangan kerap menghadapi penolakan warga saat mendata usaha dan kondisi ekonomi keluarga. Keraguan tersebut banyak dipicu kekhawatiran data digunakan untuk kepentingan pajak serta pengaruh hoaks di media sosial, dan di lapangan petugas juga menerima keluhan terkait bansos serta status desil kesejahteraan yang memperumit proses pendataan.
Berita Japan Terbaru
- Forex
- Crypto