Pegadaian catat penyaluran gadai emas melambat pada semester I-2026

Pegadaian catat penyaluran gadai emas melambat pada semester I-2026
Gadai emas Pegadaian melambat

Pelemahan harga emas dalam beberapa bulan terakhir mulai menekan laju bisnis gadai emas di Indonesia. Di tengah perlambatan bulanan sejak April 2026, PT Pegadaian masih membukukan pertumbuhan tahunan yang kuat pada penyaluran dan outstanding pembiayaan hingga Juni 2026.

Sorotan

  • Rata-rata penyaluran gadai emas Pegadaian turun dari sekitar Rp 50 triliun per bulan pada awal 2026 menjadi sekitar Rp 30 triliun sejak April 2026 karena koreksi harga emas.
  • Hingga Juni 2026, Pegadaian menyalurkan pinjaman gadai Rp 260 triliun dengan outstanding Rp 145 triliun, masing-masing tumbuh 62% year-on-year, sementara pertumbuhan gadai emas capai 56%.
  • Pegadaian memperkuat layanan digital dan ekosistem jaringan demi menjaga volume transaksi dan menangkap peluang pertumbuhan di tengah volatilitas harga emas pada 2026.

Perlambatan transaksi dan kinerja semester pertama

Kepada KONTAN, Direktur Keuangan dan Perencanaan Strategis Pegadaian, Ferdian Timur Satyagraha, mengatakan perlambatan mulai terlihat dalam tiga bulan terakhir seiring koreksi harga emas. Pada awal 2026, rata-rata penyaluran gadai emas mencapai sekitar Rp 50 triliun per bulan, namun sejak April 2026 turun menjadi sekitar Rp 30 triliun per bulan.

Ia menyatakan tren penurunan harga emas berdampak pada kinerja bisnis gadai, terutama jika dibandingkan dengan awal tahun selama semester I-2026. Meski nilai penyaluran lebih rendah dari level awal tahun, Pegadaian menyebut telah mengantisipasi kondisi itu dengan menjaga nilai pinjaman dalam batas risiko yang terukur.

Menurut perusahaan, penurunan harga emas saat ini lebih banyak mengurangi jumlah transaksi nasabah daripada meningkatkan risiko pembiayaan. Pegadaian juga terus mengoptimalkan layanan melalui kanal digital dan jaringan outlet agar volume transaksi tidak turun signifikan.

Prospek pertumbuhan dan penguatan layanan

Hingga Juni 2026, Pegadaian telah menyalurkan pinjaman berbasis gadai sebesar Rp 260 triliun dengan outstanding mencapai Rp 145 triliun. Nilai penyaluran dan outstanding tersebut masing-masing tumbuh 62% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sementara bisnis gadai emas secara keseluruhan masih mencatat pertumbuhan 56% secara tahunan pada semester I-2026.

Ferdian menilai kinerja itu ditopang kenaikan harga emas pada awal tahun yang relatif stabil hingga pertengahan tahun, bersama optimalisasi proses bisnis dan layanan perusahaan. Pegadaian tetap optimistis bisnis gadai emas bertumbuh hingga akhir 2026, didukung prospek kenaikan harga emas di tengah ketidakpastian ekonomi global dan meningkatnya kesadaran masyarakat memanfaatkan aset emas.

Untuk menangkap peluang tersebut, perusahaan memperkuat layanan melalui aplikasi TRING!, jaringan outlet Pegadaian, Agen Pegadaian, serta kerja sama dengan outlet BRI. Langkah ini menunjukkan fokus perusahaan menjaga volume transaksi dan memperluas akses nasabah di tengah volatilitas harga emas.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang kenaikan harga emas Antam di pasar ritel, kami mencatat harga jual mencapai Rp2.650.000 per gram dengan buyback naik menjadi Rp2.405.000 per gram. Ulasan itu juga menyoroti ketentuan pajak yang membuat PPN tidak dipungut serta kondisi ketersediaan produk yang belum merata di kanal resmi, yang turut memengaruhi keputusan beli investor ritel.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.