Rupiah melemah dalam sepekan, tekanan sentimen domestik dan global dorong kurs ke Rp18.065 per U.S. dolar

Rupiah melemah dalam sepekan, tekanan sentimen domestik dan global dorong kurs ke Rp18.065 per U.S. dolar
Rupiah melemah ke 18.065

Pergerakan rupiah pada pekan 6-10 Juli 2026 berakhir di zona lemah setelah kurs spot kembali menembus kisaran Rp18.000 per U.S. dolar. Pelemahan ini mencerminkan tekanan dari kombinasi faktor domestik dan global, termasuk kekhawatiran investor atas kondisi makroekonomi Indonesia dan munculnya kembali defisit neraca perdagangan.

Sorotan

  • Rupiah melemah 0,18 persen ke Rp17.995 per U.S. dolar pada Senin, lalu turun 0,35 persen ke Rp18.065 per U.S. dolar pada Jumat, 10 Juli 2026.
  • Fitch Ratings memberikan prospek negatif pada peringkat utang Indonesia BBB akibat melemahnya kepercayaan investor dan memburuknya tata kelola ekonomi makro.
  • Neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit USD1,61 miliar pada Mei 2026, mengakhiri tren surplus 72 bulan dan menambah tekanan pada rupiah.

Pergerakan kurs dan pemicu pelemahan pekan ini

Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, data Bloomberg menunjukkan rupiah di pasar spot pada Senin, 6 Juli 2026, ditutup melemah 0,18 persen ke Rp17.995 per U.S. dolar, lalu pada Jumat, 10 Juli 2026, kembali terkoreksi 0,35 persen ke Rp18.065 per U.S. dolar. Pada saat yang sama, kurs Jisdor Bank Indonesia menunjukkan rupiah menguat pada hari terakhir perdagangan Jumat ke Rp18.069 per U.S. dolar, meski secara mingguan tetap melemah 0,60 persen.

Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuabi mengatakan salah satu sentimen domestik yang menekan rupiah berasal dari respons negatif pasar terhadap laporan terbaru Fitch Ratings mengenai rapuhnya kondisi ekonomi makro Indonesia. Menurut dia, perhatian utama lembaga pemeringkat itu berada pada melemahnya kepercayaan investor akibat memburuknya tata kelola ekonomi.

Ibrahim menilai tekanan yang berkepanjangan berpotensi menaikkan utang dan biaya pinjaman pemerintah, sekaligus memperbesar risiko terhadap penurunan sovereign rating Indonesia. Pada Maret 2026, peringkat utang Indonesia masih dipertahankan di level BBB, namun prospeknya direvisi menjadi negatif.

Dampak sentimen perdagangan terhadap pasar domestik

Selain faktor pemeringkatan, pasar juga gelisah setelah neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat defisit. Badan Pusat Statistik sebelumnya mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit USD1,61 miliar pada Mei 2026, yang sekaligus mengakhiri tren surplus selama 72 bulan berturut-turut.

Kombinasi tekanan pada persepsi risiko dan memburuknya data perdagangan menambah beban bagi rupiah di pasar keuangan domestik. Bagi pelaku pasar, perkembangan ini memperkuat pandangan bahwa stabilitas kurs dalam jangka pendek masih sangat sensitif terhadap pembaruan data makroekonomi dan perubahan sentimen investor.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang rupiah yang kembali ke kisaran Rp18.000 per dolar AS, kami mengulas respons pemerintah yang menilai fundamental ekonomi masih terjaga pada semester pertama 2026, termasuk pertumbuhan 5,61 persen dan neraca perdagangan year to date yang tetap positif. Kami juga menyoroti bahwa defisit neraca dagang pada Juni dikaitkan dengan lonjakan harga impor BBM global, serta langkah kebijakan untuk menjaga inflasi dan menyiapkan insentif bagi industri.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.