IHSG berbalik melemah pada awal perdagangan Jakarta

IHSG berbalik melemah pada awal perdagangan Jakarta
IHSG awal melemah

Pergerakan pasar saham Indonesia pada pembukaan akhir pekan berlangsung fluktuatif setelah Indeks Harga Saham Gabungan sempat naik tipis di menit awal perdagangan. Dalam satu menit pertama pada Jumat, 17 Juli 2026, indeks kemudian berbalik turun ke level 6.093 di tengah nilai transaksi awal Rp466 miliar.

Sorotan

  • IHSG dibuka menguat 0,08 persen ke 6.112 namun segera berbalik turun 0,24 persen pada awal perdagangan dengan 211 saham menguat dan 180 melemah.
  • Volume transaksi awal mencapai 736 juta lembar saham senilai Rp466 miliar, sementara indeks LQ45 turun 0,33 persen, JII turun 0,23 persen, MNC36 turun 0,25 persen, dan IDX30 turun 0,23 persen.
  • Sektor teknologi menjadi satu-satunya penopang penguatan, dengan saham top gainers seperti AGAR, Indo Premier Investment Management, dan Pinnacle Persada Investama serta top losers CBUT, BAPA, dan CTTH.

Pergerakan awal indeks dan transaksi

Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, IHSG dibuka menguat 0,08 persen ke level 6.112 sebelum berbalik melemah 0,24 persen sesaat setelah perdagangan berjalan. Pada fase awal itu, 211 saham berada di zona hijau, 180 saham melemah, dan 574 saham lainnya stagnan.

Volume transaksi awal tercatat 736 juta lembar saham dengan nilai Rp466 miliar. Sejumlah indeks utama lain juga bergerak melemah, dengan LQ45 turun 0,33 persen ke level 606, JII turun 0,23 persen ke level 364, MNC36 turun 0,25 persen ke level 265, dan IDX30 turun 0,23 persen ke level 342.

Sektor dan saham penggerak pasar

Sebagian besar indeks sektoral berada di zona hijau, mencakup energi, konsumer non-siklikal, keuangan, bahan baku, properti, konsumer siklikal, infrastruktur, transportasi, industri, dan kesehatan. Sektor teknologi menjadi satu-satunya sektor yang menguat.

Di jajaran penguatan teratas, saham yang memimpin top gainers antara lain PT Asia Sejahtera Mina Tbk (AGAR), Indo Premier Investment Management, dan Pinnacle Persada Investama. Sementara itu, kelompok top losers ditempati PT Citra Borneo Utama Tbk (CBUT), PT Bekasi Asri Pemula Tbk (BAPA), dan PT Citatah Tbk (CTTH).

Dalam artikel kami sebelumnya tentang kinerja PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) pada semester I-2026, kami menyoroti lonjakan laba bersih 40,8% yoy menjadi Rp2,4 triliun yang terutama ditopang penurunan biaya pencadangan, di tengah pertumbuhan kredit dan aset yang tetap kuat. Kami juga mencatat dinamika suku bunga yang menekan sebagian pendapatan inti, sementara dana pihak ketiga dan rasio NPL relatif stabil—faktor yang kerap memengaruhi sentimen sektor keuangan di pasar.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.