Ashutosh Sureka

Rupiah melemah di tengah eskalasi risiko geopolitik Timur Tengah

Rupiah melemah di tengah eskalasi risiko geopolitik Timur Tengah
Rupiah tertekan risiko geopolitik

Tekanan eksternal kembali membebani pasar valuta asing domestik pada penutupan perdagangan Senin, saat rupiah turun 27 poin ke Rp17.948 per dolar U.S. Pelemahan sekitar 0,15 persen ini terjadi ketika pelaku pasar mencermati gangguan pengiriman di Selat Hormuz dan potensi dampaknya terhadap pasokan minyak global.

Sorotan

  • Nilai tukar rupiah melemah pasca eskalasi konflik U.S.–Iran, menyusul serangan timbal balik sepanjang akhir pekan yang menekan sentimen global.
  • CENTCOM melancarkan lebih banyak serangan ke target militer Iran, memicu kewaspadaan pasar atas risiko gangguan pasokan energi melintasi Selat Hormuz.
  • Pengiriman melalui Hormuz masih jauh di bawah level sebelum perang, sehingga premi risiko pada minyak tetap tinggi dan menekan mata uang emerging market seperti rupiah.

Pergerakan kurs dan pemicu eksternal

Sebagaimana dilaporkan Okezone Economy Indonesia, pelemahan rupiah pada akhir perdagangan dikaitkan dengan memburuknya sentimen global setelah U.S. dan Iran saling melancarkan serangan sepanjang akhir pekan. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menyatakan CENTCOM menyebut telah melancarkan lebih banyak serangan terhadap Iran pada Minggu malam.

Dalam risetnya, Ibrahim menulis serangan terbaru itu menyusul serangan Iran terhadap pangkalan U.S. di Yordania yang menewaskan sedikitnya dua tentara U.S. dan melukai banyak lainnya. Ia juga menilai militer Amerika terlihat menyerang target yang lebih luas di Iran, sementara Iran meningkatkan serangannya terhadap negara-negara Teluk di sekitarnya.

Dampak Hormuz terhadap sentimen pasar

Pertempuran saat ini masih berfokus pada kendali Selat Hormuz, dengan CENTCOM menyatakan serangan terbarunya bertujuan terus melemahkan kemampuan militer Iran yang digunakan untuk menyerang kapal di kawasan tersebut. Kondisi itu membuat pasar tetap waspada terhadap kemungkinan gangguan pasokan energi yang lebih luas.

Permusuhan yang kembali memanas ini disebut sebagai eskalasi terburuk antara U.S. dan Iran sejak sebelum gencatan senjata pada April, sementara pembicaraan damai di antara kedua pihak tampak telah gagal sepenuhnya. Pengiriman melalui Hormuz sebagian besar masih terganggu dan berada jauh di bawah tingkat sebelum perang, sehingga premi risiko pada komoditas, terutama minyak, tetap tinggi dan menambah tekanan bagi mata uang negara berkembang seperti rupiah.

Konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran sebelumnya kami soroti sebagai faktor utama yang menjaga permintaan aset safe haven tetap tinggi dan mendorong penguatan dolar AS. Kami juga mencatat bahwa lonjakan harga minyak akibat risiko gangguan pasokan di Timur Tengah membuat pasar menilai ulang ekspektasi kebijakan The Fed dan ECB, sehingga volatilitas di pasangan EUR/USD tetap tinggi meski prospek teknisnya cenderung netral.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.