BPJT nilai pelemahan rupiah tekan biaya proyek tol dan berpotensi naikkan tarif awal
Pelemahan rupiah terhadap dolar U.S. dinilai tidak mengganggu minat investasi di sektor jalan tol, meski menambah tekanan pada struktur biaya proyek. Kondisi ini terutama berisiko memengaruhi penetapan tarif awal ketika ruas tol mulai beroperasi, khususnya jika konstruksi atau pembebasan lahan mengalami keterlambatan.
Sorotan
- BPJT menyatakan pelemahan rupiah terhadap dolar U.S. mendorong kenaikan biaya konstruksi pada proyek tol seperti Tol Bogor-Serpong via Parung dan Probowangi.
- Kenaikan biaya proyek akibat kurs dan keterlambatan konstruksi mengubah perhitungan keekonomian, berpotensi menyebabkan penyesuaian tarif awal ketika tol mulai beroperasi.
- Tekanan kurs lebih berpengaruh pada kenaikan biaya bukan minat investor, sehingga percepatan dan stabilitas konstruksi menjadi kunci menjaga keekonomian proyek jalan tol.
Dampak kurs pada biaya konstruksi tol
Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, Badan Pengatur Jalan Tol, BPJT, Kementerian PU menyatakan sejumlah proyek jalan tol tetap berjalan sesuai rencana meski rupiah melemah terhadap dolar U.S. Anggota BPJT unsur pemangku kepentingan, Sony Sulaksono Wibowo, menyebut Tol Bogor-Serpong via Parung telah menandatangani kontrak, Tol Probolinggo-Banyuwangi, Probowangi, memasuki tahap konstruksi, serta beberapa proyek di Sumatera masih berlanjut.Menurut Sony, pengaruh utama penguatan dolar terhadap proyek tol lebih banyak terlihat pada kenaikan biaya konstruksi. Semakin lama masa pembangunan berlangsung, semakin besar pula biaya yang harus ditanggung badan usaha jalan tol, BUJT.
Ia menjelaskan investor pada saat lelang telah mengajukan tarif awal berdasarkan proyeksi biaya konstruksi. Ketika pembangunan tertunda dan ongkos proyek membengkak akibat fluktuasi kurs atau proses pembebasan lahan yang memakan waktu, perhitungan keekonomian proyek ikut berubah.
Implikasi bagi tarif dan keekonomian proyek
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi BUJT karena tarif awal pada tahap tender pada dasarnya sudah ditetapkan. Namun ketika biaya aktual meningkat selama masa pembangunan, penyesuaian tarif awal dapat muncul saat jalan tol mulai beroperasi.BPJT menekankan bahwa tekanan kurs lebih berdampak pada sisi biaya dibanding minat investasi. Bagi sektor jalan tol, hal ini berarti stabilitas pelaksanaan proyek dan percepatan konstruksi menjadi faktor penting untuk menahan kenaikan biaya dan menjaga keekonomian proyek.
Dalam laporan kami sebelumnya tentang rencana penyesuaian tarif tiga ruas tol di Jawa pada 2026, BPJT menyebut Tol Semarang–Batang, Tol Akses Patimban, dan Tol Cinere–Jagorawi (Cijago) masuk pipeline evaluasi. Penyesuaian tarif masih menunggu analisis dan verifikasi pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM), sehingga kenaikan belum otomatis berlaku sebelum kualitas layanan dinilai memenuhi syarat.
- Forex
- Crypto