BJB Syariah rem ekspansi pembiayaan di tengah likuiditas perbankan ketat
Di tengah likuiditas industri perbankan yang masih ketat, BJB Syariah menjaga pertumbuhan pembiayaan tetap moderat hingga akhir 2026. Hingga Juli 2026, pembiayaan bank tumbuh lebih cepat daripada dana pihak ketiga, sehingga rasio financing to deposit ratio naik ke 97,81% dari 94,7% pada Juli 2025.
Sorotan
- Pada Juli 2026, pembiayaan BJB Syariah naik 11,25% yoy menjadi Rp 11,45 triliun, sementara dana pihak ketiga tumbuh 7,71% menjadi Rp 11,71 triliun.
- FDR BJB Syariah meningkat menjadi 97,81%, menandakan ruang likuiditas lebih ketat meski dana pihak ketiga tetap bertambah.
- Hingga akhir 2026, BJB Syariah akan menyalurkan pembiayaan secara selektif dan memperkuat pendanaan guna menjaga likuiditas serta efisiensi biaya dana.
Strategi pembiayaan dan pendanaan hingga akhir 2026
Seperti dilaporkan KONTAN, BJB Syariah menilai kondisi likuiditasnya saat ini masih terjaga dan memadai untuk mendukung kebutuhan transaksi nasabah serta aktivitas bisnis bank. Sekretaris BJB Syariah Yusuf Abadi mengatakan bank tetap mencermati perkembangan likuiditas industri, khususnya di sektor perbankan syariah, sambil menyiapkan langkah mitigasi untuk mengantisipasi potensi risiko likuiditas.Dengan kondisi tersebut, perseroan memilih menyalurkan pembiayaan secara lebih selektif sampai akhir tahun. Bank tetap membidik sektor-sektor yang memiliki prospek baik, namun dengan prinsip kehati-hatian dan tingkat risiko yang terukur, sementara target pertumbuhan pembiayaan hingga akhir tahun tetap berada dalam kisaran moderat.
Di sisi pendanaan, BJB Syariah memperkuat penghimpunan dana pihak ketiga dengan mengoptimalkan dana dari nasabah existing dan memperluas basis nasabah baru. Strategi itu dijalankan dengan tetap memperhatikan kebutuhan likuiditas dan efisiensi biaya dana bank.
Dampak rasio likuiditas bagi bank syariah
Pada Juli 2026, pembiayaan BJB Syariah mencapai Rp 11,45 triliun, naik 11,25% secara tahunan, sedangkan dana pihak ketiga tumbuh 7,71% menjadi Rp 11,71 triliun. Kesenjangan laju pertumbuhan tersebut tercermin pada kenaikan FDR menjadi 97,81%, yang menunjukkan ruang likuiditas menjadi lebih ketat meski dana bank masih bertambah.Kondisi ini menggambarkan tantangan yang lebih luas di industri perbankan syariah, ketika pertumbuhan pembiayaan perlu dijaga agar tidak melampaui kemampuan pendanaan. Bagi BJB Syariah, fokus pada ekspansi yang lebih terukur dan penguatan pendanaan menjadi langkah untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, kebutuhan likuiditas, dan biaya dana hingga akhir 2026.
Dalam laporan kami sebelumnya tentang lonjakan pembiayaan KPR syariah Bank Muamalat melalui produk KPR iB Hijrah Baitullah, kami mencatat penyaluran hingga Juni 2026 mencapai Rp423 miliar dengan jumlah rekening naik 4,5 kali lipat secara tahunan. Artikel itu juga mengulas fitur produk seperti tenor hingga 25 tahun, proses pengajuan digital lewat kprhijrah.id, serta berbagai insentif yang ditawarkan untuk memperluas jangkauan nasabah di tengah prospek properti syariah yang dinilai masih kuat.
Berita business Terbaru
- Forex
- Crypto