Penerbitan surat utang multifinance hingga Juli 2026 turun 12,71% menjadi Rp 62,19 triliun
Tekanan biaya pendanaan masih membayangi industri multifinance meski kebutuhan dana tetap berlanjut hingga akhir 2026. Per Juli 2026, nilai penerbitan surat utang sektor ini mencapai Rp 62,19 triliun, sementara pelaku usaha dinilai cenderung lebih selektif di tengah level suku bunga yang masih tinggi.
Sorotan
- Penerbitan surat utang multifinance hingga Juli 2026 turun 12,71% menjadi Rp 62,19 triliun menurut data Otoritas Jasa Keuangan.
- Kenaikan BI Rate diproyeksikan meningkatkan biaya dana dan mendorong multifinance lebih selektif menerbitkan surat utang hingga akhir 2026.
- PT Pemeringkat Efek Indonesia menilai BI Rate di 5,75% belum cukup mendorong percepatan penerbitan obligasi dan peluang tetap selektif bagi multifinance.
Prospek penerbitan dan tekanan biaya dana
Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan mencatat penerbitan surat utang multifinance mencapai Rp 62,19 triliun per Juli 2026, turun 12,71% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman, memperkirakan peluang penerbitan surat utang multifinance masih terbuka hingga akhir 2026. Dalam jawaban tertulis RDK OJK pada Senin, 14 September 2026, ia menyatakan ruang penerbitan tetap bergantung pada perkembangan kondisi pasar keuangan dan kebutuhan pendanaan industri multifinance.
Agusman juga mengatakan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia, atau BI Rate, berpotensi memengaruhi penerbitan surat utang perusahaan multifinance. Kenaikan BI Rate dapat meningkatkan biaya dana, sehingga perusahaan multifinance berpotensi menjadi lebih berhati-hati dalam menerbitkan surat utang ke depan.
Untuk menyikapi kondisi tersebut, OJK menilai perusahaan multifinance perlu memperkuat pengelolaan risiko suku bunga. Langkah yang ditekankan antara lain diversifikasi sumber pendanaan dan penguatan efisiensi pendanaan.
Dampak suku bunga terhadap strategi multifinance
Penilaian serupa juga datang dari PT Pemeringkat Efek Indonesia, atau Pefindo, yang melihat level BI Rate 5,75% belum menjadi momentum kuat bagi multifinance untuk mempercepat penerbitan surat utang.Fixed Income Analyst Pefindo Ahmad Nasrudin mengatakan penahanan BI Rate di level 5,75% memang memberi kepastian yang lebih baik bagi penerbit, tetapi belum cukup kuat untuk mendorong percepatan penerbitan obligasi. Menurut dia, keputusan menahan suku bunga mengurangi risiko kenaikan biaya dana lebih lanjut dalam jangka sangat pendek, namun tingkat biaya pendanaan masih jauh lebih tinggi dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.
Dalam kondisi itu, penerbitan surat utang dinilai kemungkinan tetap berlangsung secara selektif. Pefindo menilai langkah itu terutama akan ditempuh oleh perusahaan multifinance yang memiliki kebutuhan refinancing, peringkat kuat, dan akses investor yang baik.
Dalam laporan kami sebelumnya tentang kontraksi pembiayaan kendaraan roda empat oleh industri multifinance, kami menyoroti bahwa kenaikan penjualan mobil hingga Juli 2026 belum diikuti pertumbuhan penyaluran kredit mobil, yang justru turun secara tahunan. Artikel tersebut juga membahas faktor penekan di segmen pembiayaan tertentu serta kenaikan NPF gross menjadi 3,03% yang mendorong pelaku multifinance makin berhati-hati dan selektif dalam menyalurkan pembiayaan.
Berita Trading Terbaru
- Forex
- Crypto