Bank Indonesia perluas layanan emas digital lewat aplikasi pada 2026
Bank-bank di Indonesia semakin agresif mengembangkan layanan emas digital di aplikasi untuk menangkap minat investasi masyarakat yang tetap kuat pada 2026. Strategi ini didorong harga emas yang masih tinggi, pelemahan daya tarik pasar saham, dan upaya perbankan memperluas sumber pertumbuhan berbasis layanan bullion.
Sorotan
- Per Juni 2026, emas kelolaan BSI mencapai 24,01 ton dengan jumlah nasabah bullion naik 700% secara tahunan berkat fitur Bank Emas di aplikasi BYOND.
- Penjualan emas digital BRI di BRImo tembus Rp 5,13 triliun hingga Agustus 2026, naik 217,42% yoy dengan volume transaksi melonjak 658,97% ke 9,01 juta.
- Bank Mandiri mengintegrasikan layanan bullion ke Livin', memungkinkan setoran awal Tabungan Emas mulai 0,02 gram atau Rp 50.000 serta pinjaman Multiguna Emas.
Strategi bank memperluas akses investasi emas
Kantor berita bisnis KONTAN Indonesia melaporkan, sejumlah bank mempercepat pengembangan layanan emas digital melalui aplikasi masing-masing, baik lewat kemitraan dengan Pegadaian maupun penguatan model bisnis bullion.Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai bisnis emas perbankan masih mencatat laju pertumbuhan positif tahun ini. Menurut dia, prospek itu ditopang oleh harga emas yang bertahan tinggi dibanding tiga tahun lalu, sekaligus meningkatnya minat kelas menengah dan Gen Z terhadap emas sebagai instrumen investasi jangka panjang.
Bhima juga mengatakan menabung emas menjadi alternatif investasi ketika kinerja pasar saham melemah. Di saat yang sama, ketersediaan layanan emas di aplikasi perbankan membuat pembelian emas semakin mudah karena nasabah tidak perlu datang dan mengantre di toko emas atau gerai fisik.
PT Bank Syariah Indonesia Tbk, atau BSI, terus mencatat pertumbuhan kuat di bisnis emas. Per Juni 2026, total emas kelolaan BSI mencapai 24,01 ton, sementara jumlah nasabah bullion naik 700% secara tahunan. Corporate Secretary BSI Wisnu Sunandar mengatakan perseroan terus mengoptimalkan potensi ekonomi emas sebagai sumber pertumbuhan baru, termasuk lewat fitur Bank Emas di aplikasi BYOND.
Salah satu layanan di BYOND adalah Gadai dari Cicil Emas, yang memungkinkan nasabah memanfaatkan cicilan emas yang hampir lunas untuk memperoleh dana tambahan tanpa menjual emasnya. Di sisi lain, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menjadi bank konvensional pertama di Indonesia yang memperoleh lisensi usaha bulion dari Otoritas Jasa Keuangan, atau OJK, dan mengintegrasikan layanan itu ke dalam Livin' by Mandiri.
Direktur Consumer Banking Bank Mandiri Saptari mengatakan jumlah pengguna terdaftar Livin' by Mandiri mencapai 42,1 juta hingga Agustus 2026. Melalui aplikasi itu, nasabah dapat mengakses Tabungan Emas dengan setoran awal mulai 0,02 gram atau sekitar Rp 50.000, lalu pembelian berikutnya mulai 0,005 gram atau sekitar Rp 10.000. Bank Mandiri juga menawarkan Kredit Serbaguna Mandiri, atau KSM, Emas untuk pembelian secara cicilan dengan harga yang dikunci saat pengajuan.
Mandiri kini menyiapkan pengembangan layanan lanjutan, termasuk Multiguna Emas untuk pinjaman dengan agunan emas, autodebet emas untuk investasi berkala, dan transfer emas antar pengguna Livin'. Langkah itu menunjukkan persaingan bank tidak lagi sebatas penjualan emas digital, tetapi juga merambah pembiayaan dan transaksi berbasis emas di dalam ekosistem aplikasi.
Dampak persaingan pada pertumbuhan bisnis digital
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, atau BRI, juga mencatat akselerasi kuat melalui super app BRImo. Hingga Agustus 2026, volume penjualan produk emas BRI mencapai Rp 5,13 triliun, naik 217,42% secara tahunan, sementara frekuensi transaksi melonjak 658,97% menjadi 9,01 juta transaksi.Kenaikan transaksi itu terjadi setelah peluncuran Open Bundling Emas di BRImo. Layanan tersebut memungkinkan nasabah langsung membuka rekening emas ketika melakukan transfer uang, sehingga akses investasi menjadi lebih praktis dan terintegrasi di dalam alur transaksi harian.
Direktur Information Technology BRI Saladin Dharma Nugraha Effendi mengatakan kemudahan akses menjadi bagian dari strategi perseroan agar investasi emas semakin relevan dengan gaya hidup nasabah. Dengan dukungan PT Pegadaian, BRImo kini menawarkan Tabungan Emas dengan pembelian mulai Rp 10.000 atau 0,1 gram, Cicil Emas dengan minimum 0,5 gram, serta Transfer Emas antar rekening mulai 0,01 gram.
Perkembangan ini menunjukkan layanan emas digital menjadi salah satu arena pertumbuhan baru bagi industri perbankan Indonesia. Selain memperluas pilihan investasi ritel, integrasi emas ke dalam aplikasi juga membuka peluang peningkatan transaksi, akuisisi nasabah muda, dan diversifikasi pendapatan berbasis layanan keuangan digital.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang prospek pembiayaan emas di sektor multifinance, kami membahas pandangan OJK bahwa ruang pertumbuhan masih terbuka pada 2026 seiring minat masyarakat terhadap emas meski harga sempat melemah. Kami juga mengulas strategi pelaku usaha seperti PT CIMB Niaga Auto Finance yang memperluas penawaran, menggarap segmen payroll, dan mengandalkan referral untuk mendorong penyaluran pembiayaan emas hingga akhir 2026.
Berita Gold Terbaru
- Forex
- Crypto