Industri multifinance hadapi perlambatan piutang dan tekanan daya beli hingga akhir 2026

Industri multifinance hadapi perlambatan piutang dan tekanan daya beli hingga akhir 2026
Multifinance Tertekan Hingga 2026

Industri multifinance di Indonesia masih menghadapi tekanan dalam menjaga pertumbuhan pembiayaan hingga akhir 2026 di tengah pelemahan kualitas permintaan konsumen. Perlambatan pertumbuhan piutang pada Agustus 2026, kehati-hatian ekspansi perusahaan, dan seleksi debitur yang lebih ketat menjadi faktor utama yang membatasi laju penyaluran baru.

Sorotan

  • Pertumbuhan piutang pembiayaan multifinance melambat menjadi 1,68% pada Agustus 2026, turun dari 2,01% pada Juli 2026, dipicu ketidakpastian ekonomi dan tekanan daya beli.
  • Perusahaan multifinance memperketat seleksi debitur dan mengutamakan kualitas portofolio, mengakibatkan perlambatan pertumbuhan volume pembiayaan di tengah maraknya transaksi STNK only.
  • Otoritas Jasa Keuangan memperkirakan pertumbuhan industri multifinance sebesar 2%–4% hingga akhir 2026, sementara PT CIMB Niaga Auto Finance menyalurkan pembiayaan baru Rp 5,4 triliun sampai September 2026.

Tantangan pertumbuhan pembiayaan 2026

Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, ekonom Center of Reform on Economics Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai perlambatan pertumbuhan piutang pada Agustus 2026 menjadi salah satu tantangan utama bagi industri multifinance. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan, piutang pembiayaan multifinance tumbuh 1,68% secara tahunan menjadi Rp 514 miliar, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 2,01% secara tahunan pada Juli 2026 dengan nilai Rp 513,05 miliar.

Yusuf mengatakan kondisi tersebut dipengaruhi oleh ketidakpastian ekonomi global, perlambatan pembiayaan kendaraan, dan sikap pelaku usaha yang lebih berhati-hati dalam melakukan ekspansi. Meski penjualan mobil masih cukup menggairahkan, kinerjanya dinilai belum cukup kuat untuk mendorong pembiayaan secara keseluruhan karena konsumen semakin selektif di tengah tekanan daya beli dan persepsi pendapatan yang tergerus kenaikan biaya hidup.

Dari sisi industri, perusahaan multifinance juga terus memperketat seleksi calon debitur seiring maraknya transaksi kendaraan dengan sistem STNK only. Kebijakan ini menahan pertumbuhan volume pembiayaan, namun dinilai membantu menjaga kualitas portofolio sehingga perlambatan tidak semata-mata berasal dari dinamika ekonomi, tetapi juga dari strategi perusahaan yang lebih mengutamakan kualitas pembiayaan dibandingkan pertumbuhan volume.

Strategi industri dan ruang pertumbuhan baru

Yusuf menilai perusahaan multifinance perlu lebih berhati-hati agar peningkatan penyaluran tidak diikuti kenaikan risiko kredit. Untuk menopang pertumbuhan, perusahaan pembiayaan dapat memperkuat kerja sama dengan dealer dan agen pemegang merek, sekaligus mengembangkan produk yang lebih sesuai dengan kemampuan konsumen.

Ia juga melihat diversifikasi pembiayaan dapat menjadi sumber pertumbuhan baru, termasuk melalui pembiayaan alat berat untuk proyek energi terbarukan dan kendaraan listrik. Selain itu, segmen pembiayaan modal kerja yang terus menunjukkan kinerja positif dapat dioptimalkan sebagai penopang pertumbuhan industri.

Otoritas Jasa Keuangan memproyeksikan industri multifinance masih dapat mencatat pertumbuhan 2% hingga 4% sampai akhir 2026. Di tingkat pelaku usaha, PT CIMB Niaga Auto Finance telah menyalurkan pembiayaan baru Rp 5,4 triliun hingga September 2026 dan menyatakan akan memperkuat penetrasi di berbagai segmen, memperluas sinergi dengan mitra strategis, menyempurnakan layanan digital, serta tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dan penyaluran yang lebih selektif.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang pertumbuhan pembiayaan BJB Syariah per Agustus 2026, kami menyoroti kenaikan pembiayaan 10,6% (yoy) menjadi Rp 11,53 triliun yang ditopang segmen konsumer serta investasi di sektor pendidikan dan kesehatan. Kami juga membahas langkah perseroan menjaga momentum lewat stimulus pembiayaan konsumer bagi nasabah payroll, penguatan sinergi dengan bank induk untuk menyasar ASN, serta rencana ekspansi melalui KUB.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.