Rupiah melemah tipis ke Rp18.160 per dolar U.S. di tengah sentimen geopolitik
Pergerakan rupiah pada akhir perdagangan Selasa menunjukkan tekanan terbatas di tengah meningkatnya perhatian pasar terhadap perkembangan global. Pelemahan 4 poin ke level Rp18.160 per dolar U.S. juga terjadi saat investor mencermati konflik Timur Tengah, agenda diplomasi perang, dan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Sorotan
- Rupiah melemah tipis 0,02 persen ke Rp18.160 per dolar U.S. pada Selasa, tertekan sentimen eskalasi geopolitik Timur Tengah.
- Serangan U.S. ke Pulau Qeshm Iran dan pernyataan Trump terkait negosiasi dengan Teheran meningkatkan volatilitas risiko pada pasar uang regional.
- Pasar kini mencermati pertemuan delegasi Ukraina-Rusia di Abu Dhabi 10-11 November serta arah suku bunga The Fed jelang pemilu paruh waktu U.S. 3 November.
Sentimen eksternal membayangi perdagangan rupiah
Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, kurs rupiah terhadap dolar U.S. ditutup turun tipis 0,02 persen pada Selasa, setelah pasar menimbang eskalasi geopolitik dan rangkaian agenda ekonomi internasional.Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan salah satu sentimen eksternal datang dari laporan bahwa U.S. telah menyerang Pulau Qeshm milik Iran. Sejumlah pejabat menjelaskan serangan itu bersifat defensif dan ditujukan untuk mencegah Iran memiliki ruang lebih besar untuk menyerang kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
Dalam risetnya, Ibrahim juga menulis bahwa pada Senin, Trump melontarkan keraguan mengenai apakah ia benar-benar akan melanjutkan ancaman serangan militer terhadap Iran, sambil menambahkan bahwa kesepakatan dengan Teheran masih mungkin tercapai. Di saat yang sama, komunikasi antara Iran dan U.S. untuk mengakhiri perang masih terus berlanjut, meski pembicaraan melalui mediator Qatar belum menghasilkan terobosan berarti.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei telah memberikan wewenang tertentu kepada pemerintah untuk melakukan pembicaraan damai. Perkembangan ini menjaga pasar tetap sensitif terhadap risiko geopolitik yang berpotensi memengaruhi arus modal dan permintaan aset aman.
Fokus pasar bergeser ke politik U.S. dan arah suku bunga
Selain isu Timur Tengah, pasar juga mencermati rencana U.S. untuk mempertemukan delegasi Ukraina dan Rusia di Abu Dhabi pada 10-11 November. Pertemuan itu ditujukan untuk membahas pengakhiran perang Rusia melawan Ukraina, kesepakatan keamanan pascaperang, serta langkah de-eskalasi.Perhatian pelaku pasar kini juga tertuju pada pemilihan umum paruh waktu di U.S. pada 3 November. Di tengah jadwal ekonomi yang padat, investor mencari petunjuk baru mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed, yang tetap menjadi penentu utama bagi pergerakan mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
Dalam ulasan kami sebelumnya tentang pelemahan rupiah di tengah eskalasi risiko Selat Hormuz, kami menyoroti rupiah yang tertekan seiring meningkatnya gangguan pelayaran dan kekhawatiran pasokan energi. Artikel tersebut juga mencatat inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan memperkuat sikap hati-hati investor terhadap aset berisiko, sehingga membatasi ruang penguatan mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
Berita Fed Terbaru
- Forex
- Crypto