Yulia Slavina

Bank Mandiri catat NPL bruto turun jadi 0,98% pada kuartal III 2026

Bank Mandiri catat NPL bruto turun jadi 0,98% pada kuartal III 2026
NPL Bank Mandiri turun

Perbaikan kualitas aset menopang ekspansi kredit PT Bank Mandiri Tbk hingga akhir September 2026, ketika penyaluran pinjaman bank only terus tumbuh dua digit secara tahunan. Di saat yang sama, rasio kredit bermasalah bruto turun menjadi 0,98% dari 1,03% setahun sebelumnya, sementara special mention loan juga menyusut.

Sorotan

  • Bank Mandiri mencatat total kredit bank only Rp 1.605,8 triliun per September 2026, naik 16% YoY, dengan NPL bruto turun menjadi 0,98%.
  • NPL coverage ratio tercatat 243% dan cost of credit mencapai 0,55% per September 2026, sementara rasio special mention loan turun ke 2,88%.
  • Kredit terbesar berada di sektor pemerintah Rp 126 triliun, perkebunan sawit dan CPO Rp 110 triliun, serta energi dan air Rp 99,6 triliun.

Kinerja kredit dan kualitas aset September 2026

KONTAN Indonesia melaporkan PT Bank Mandiri Tbk membukukan total kredit bank only sebesar Rp 1.605,8 triliun per September 2026, naik 16% secara tahunan, seiring penurunan rasio non-performing loan bruto menjadi 0,98%. Dalam paparan kinerja kuartal III pada Jumat, 23 Oktober 2026, Direktur Risk Management Bank Mandiri Danis Subyantoro mengatakan kualitas aset tetap menjadi perhatian perseroan di tengah ekspansi kredit.

Danis menyatakan pertumbuhan kredit perlu disertai penilaian risiko dan pemantauan kualitas aset yang disiplin. Menurut dia, pengelolaan tersebut menjaga kualitas portofolio agar Bank Mandiri dapat terus mendukung kebutuhan pembiayaan masyarakat dan dunia usaha.

Bank Mandiri juga mencatat NPL coverage ratio sebesar 243% dan cost of credit sebesar 0,55% per September 2026. Rasio kredit dalam perhatian khusus, atau special mention loan, turun menjadi 2,88% dari 3,35% pada periode yang sama tahun lalu.

Sebaran sektor dan implikasi bagi portofolio

NPL tertinggi dalam presentasi kinerja bank tercatat pada sektor perdagangan ritel dan makanan minuman sebesar 1,36%. Setelah itu, industri dan perdagangan logam mencatat NPL 0,71%, sementara konstruksi non-infrastruktur 0,18%, industri makanan dan minuman 0,16%, serta perkebunan sawit dan CPO 0,14%.

Beberapa sektor membukukan NPL 0%, yakni sektor pemerintah, energi dan air, properti dan investasi, serta industri pulp dan kertas. Dari sisi portofolio, outstanding kredit bank only terbesar berasal dari sektor pemerintah sebesar Rp 126 triliun, diikuti perkebunan sawit dan CPO Rp 110 triliun, serta energi dan air Rp 99,6 triliun.

Komposisi itu menunjukkan kualitas aset Bank Mandiri tetap terjaga di tengah eksposur besar ke sejumlah sektor utama pembiayaan. Penurunan NPL dan SML memberi ruang bagi bank untuk mempertahankan pertumbuhan kredit, sambil tetap mewaspadai area usaha dengan rasio kredit bermasalah yang lebih tinggi.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang POJK 17/2026 mengenai rencana bisnis bank umum, kami membahas pengetatan kerangka perencanaan bisnis yang kini diwajibkan lebih realistis dan berbasis risiko, lengkap dengan pelaporan serta evaluasi yang lebih rinci melalui sistem OJK. Aturan ini menegaskan rencana bisnis sebagai instrumen strategis untuk tata kelola dan manajemen risiko, sekaligus memperkuat pengawasan regulator secara lebih forward looking di tengah transformasi digital perbankan.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.