Clipan Finance salurkan pembiayaan mobil bekas Rp750 miliar hingga April 2026

Clipan Finance salurkan pembiayaan mobil bekas Rp750 miliar hingga April 2026
Pembiayaan mobil bekas naik

Segmen pembiayaan mobil bekas di Indonesia masih menghadapi tekanan pada paruh pertama 2026 di tengah pelemahan daya beli dan persaingan yang makin agresif dari kendaraan listrik. Di sisi lain, perubahan preferensi konsumen ke mobil bekas yang lebih terjangkau masih menopang penyaluran pembiayaan perusahaan pada awal tahun ini.

Sorotan

  • Clipan Finance menyalurkan pembiayaan mobil bekas lebih dari Rp750 miliar hingga April 2026 meski pasar otomotif nasional masih lesu.
  • Pelemahan daya beli, persaingan kendaraan listrik, dan kehati-hatian atas kualitas aset membatasi permintaan serta menekan nilai pasar mobil bekas.
  • Pelemahan rupiah dan tren kenaikan suku bunga meningkatkan risiko kredit dan menekan permintaan pembiayaan, namun pasar mobil bekas tetap menjadi penopang utama pertumbuhan.

Tekanan pasar dan capaian pembiayaan

Seperti dilaporkan KONTAN, PT Clipan Finance Indonesia Tbk melihat pelemahan daya beli masyarakat dan persaingan dari electric vehicle (EV) sebagai dua faktor yang membayangi bisnis pembiayaan mobil bekas pada semester pertama 2026. Direktur Utama PT Clipan Finance Indonesia Tbk Harjanto Tjitohardjojo mengatakan permintaan pembiayaan kendaraan roda empat baru tetap lemah, sementara pembiayaan mobil bekas masih terbatas karena kehati-hatian terhadap kualitas aset.

Ia menilai perang harga kendaraan listrik yang semakin intensif ikut menekan nilai pasar kendaraan bekas secara keseluruhan. Kondisi itu terlihat dari menurunnya kemampuan pemulihan nilai agunan kendaraan yang telah disita oleh perusahaan pembiayaan.

Meski pasar masih lesu, Clipan Finance mencatat penyaluran pembiayaan mobil bekas lebih dari Rp750 miliar hingga April 2026. Kinerja tersebut ditopang oleh konsumen yang beralih ke kendaraan bekas sebagai pilihan yang lebih terjangkau dibandingkan mobil baru.

Dampak makroekonomi bagi industri multifinance

Selain tekanan dari sisi pasar, perusahaan juga mencermati risiko makroekonomi yang dapat memengaruhi industri multifinance. Pelemahan nilai tukar rupiah dan tren kenaikan suku bunga dinilai berpotensi menekan permintaan pembiayaan kendaraan bermotor.

Clipan Finance juga melihat potensi kenaikan harga kendaraan dapat memengaruhi kemampuan bayar debitur. Jika tekanan itu berlanjut, kualitas pembiayaan dan tingkat risiko kredit perusahaan dapat ikut terdampak.

Namun, perusahaan masih melihat ruang pertumbuhan di pasar mobil bekas seiring pergeseran perilaku konsumen. Dalam kondisi daya beli yang tertekan, tren penjualan mobil bekas yang tetap positif menjadi penopang bagi pembiayaan segmen ini di tengah lemahnya pasar mobil baru nasional.

Dalam laporan kami sebelumnya tentang penyusutan DPK rupiah dan tekanan likuiditas perbankan pada April 2026, kami mencatat simpanan rupiah turun dan sebagian dana bergeser ke instrumen berimbal hasil lebih tinggi seperti SBN, deposito berjangka, dan reksadana. Jika tren ini berlanjut, cost of fund berpotensi naik, menekan NIM, dan membatasi ruang perbankan menyalurkan kredit dengan bunga kompetitif. Dinamika tersebut menjadi konteks penting saat industri pembiayaan, termasuk multifinance, menghadapi risiko suku bunga dan pelemahan rupiah yang bisa menekan permintaan pembiayaan.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.