KB Bank jaga pembelian SRBI tetap selektif di tengah imbal hasil tinggi

KB Bank jaga pembelian SRBI tetap selektif di tengah imbal hasil tinggi
KB Bank selektif SRBI

Di tengah dominasi perbankan pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia, KB Bank menyiapkan arah kepemilikan SRBI yang menyesuaikan kondisi likuiditas, pertumbuhan kredit, dan pergerakan pasar keuangan. Bank ini menilai porsi SRBI masih bisa bertambah dalam jangka pendek, tetapi ruang pengurangan tetap terbuka dalam jangka menengah saat ekspansi kredit mulai menguat.

Sorotan

  • Kepemilikan bank di SRBI naik ke Rp677,89 triliun per Mei 2026, setara 69,18% total outstanding, berkat lelang bunga 7,1%–8,65%.
  • Surat berharga KB Bank naik 6,09% yoy ke Rp20,01 triliun per Mei 2026, sementara kredit tumbuh 3,83% menjadi Rp43,52 triliun.
  • KB Bank akan selektif dalam kepemilikan SRBI, mengurangi porsi di tengah penguatan kredit, dan mengalihkan dana ke pembiayaan produktif.

Strategi kepemilikan SRBI dan faktor penentu

Seperti dilaporkan KONTAN, PT Bank KB Tbk menyatakan pengelolaan portofolio SRBI tidak dijalankan secara tetap, melainkan disesuaikan dengan perkembangan ekonomi, likuiditas, dan kebutuhan ekspansi pembiayaan. Presiden Direktur KB Bank Kunardy Darma Lie mengatakan imbal hasil SRBI yang kompetitif sekaligus fungsi instrumen itu dalam menjaga likuiditas membuat porsi kepemilikan bank masih berpotensi meningkat dalam jangka pendek.

Kunardy mengatakan proyeksi kepemilikan SRBI ke depan bersifat selektif dan adaptif. Menurut dia, arah tersebut dipengaruhi kebijakan moneter Bank Indonesia, tren suku bunga global, serta dinamika persaingan penghimpunan dana di pasar domestik.

Saat ini, SRBI dilelang dengan tawaran bunga 7,1% hingga 8,65%. Data Bank Indonesia juga menunjukkan kepemilikan bank di SRBI mencapai Rp677,89 triliun per Mei 2026, setara 69,18% dari total outstanding, naik dari 62,03% pada tahun lalu.

Dampak bagi likuiditas bank dan penyaluran kredit

Hingga Mei 2026, kepemilikan surat berharga KB Bank mencapai Rp20,01 triliun, naik 6,09% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada saat yang sama, kredit bank itu tumbuh 3,83% secara tahunan menjadi Rp43,52 triliun.

KB Bank menyatakan porsi SRBI dapat dikurangi dalam jangka menengah bila ekspansi kredit mulai menunjukkan penguatan. Dalam kondisi itu, dana yang kini ditempatkan pada SRBI dinilai lebih optimal dialihkan ke pembiayaan sektor produktif.

Pendekatan ini diarahkan untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas likuiditas, profitabilitas, dan dukungan terhadap pertumbuhan kredit. Melalui strategi tersebut, KB Bank berharap tetap dapat mengoptimalkan pengelolaan aset sambil mempertahankan ruang yang memadai untuk memperbesar pembiayaan ketika permintaan kredit meningkat.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang prospek sektor perbankan 2026 di tengah suku bunga tinggi dan pelemahan rupiah, kami mengulas bagaimana kenaikan biaya dana menekan margin bunga bersih dan membuat risiko kualitas aset meningkat. Kami juga mencatat proyeksi pertumbuhan laba agregat bank direvisi turun serta sikap investor diperkirakan lebih selektif, dengan hanya beberapa bank besar yang dinilai masih berpeluang menopang pertumbuhan.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.