BEI perluas keterbukaan data pemegang saham di pasar modal Indonesia

BEI perluas keterbukaan data pemegang saham di pasar modal Indonesia
Transparansi pasar modal BEI

Dorongan penguatan transparansi pasar modal domestik semakin dipercepat sejak awal 2026 melalui pembenahan struktur kepemilikan saham emiten. Dalam kerangka itu, Indonesia bersama India disebut menjadi dua negara yang membuka identitas pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1% kepada publik.

Sorotan

  • PT Bursa Efek Indonesia mewajibkan keterbukaan identitas pemegang saham di atas 1% sebagai upaya memperkuat transparansi pasar modal domestik.
  • BEI akan memperluas informasi data kepemilikan saham dengan rincian kategori investor dan hubungan afiliasi antar pemegang saham untuk meningkatkan akurasi penilaian emiten.
  • Jeffrey Hendrik menegaskan kualitas, akurasi, dan keandalan data menjadi prioritas utama dalam mempercepat pembenahan struktur pasar modal Indonesia.

Agenda transparansi dan pengayaan data kepemilikan

Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, PT Bursa Efek Indonesia menegaskan keterbukaan identitas pemegang saham di atas 1% menjadi bagian dari komitmen untuk memperkuat transparansi pasar modal domestik. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyatakan langkah itu ditujukan untuk memberi gambaran yang lebih lengkap kepada investor mengenai struktur kepemilikan saham emiten.

Dalam Capital Market Journalist Workshop Media Gathering 2026 di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Sabtu, 31 Oktober 2026, Jeffrey mengatakan hanya Indonesia dan India yang menjalankan keterbukaan tersebut. Ia menambahkan BEI secara bertahap tidak hanya membuka identitas pemegang saham, tetapi juga melengkapi informasinya dengan rincian kategori investor.

Dampak bagi investor dan pembenahan struktur pasar

BEI juga berencana melengkapi data kepemilikan saham dengan informasi mengenai keterkaitan atau hubungan afiliasi antar pemegang saham. Langkah ini diharapkan memberi gambaran struktur kepemilikan yang lebih akurat bagi pelaku pasar dalam menilai emiten.

Meski demikian, Jeffrey menekankan pentingnya menjaga akurasi dan keandalan data yang disampaikan kepada masyarakat. Penekanan pada kualitas data itu menjadi bagian dari upaya pembenahan struktur pasar modal yang kini dipercepat, agar keterbukaan informasi tidak hanya lebih luas, tetapi juga tetap dapat diandalkan oleh investor.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang pelemahan tajam IHSG sepanjang kuartal III-2026, kami mengulas bagaimana penurunan indeks yang dalam menekan kinerja industri sekuritas melalui turunnya nilai/frekuensi transaksi, margin trading, hingga risiko penundaan IPO dan penerbitan obligasi. Ulasan tersebut juga menyoroti perlunya edukasi investor, penguatan riset, serta efisiensi platform agar pelaku industri tetap mampu menjaga kepercayaan nasabah di tengah volatilitas pasar.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.