Perdagangan Indonesia-Peru mencatat surplus tinggi di tengah penguatan ekspor

Perdagangan Indonesia-Peru mencatat surplus tinggi di tengah penguatan ekspor
Surplus dagang Indonesia-Peru

Hubungan dagang Indonesia dan Peru terus menguat pada 2026, didorong kenaikan ekspor Indonesia ke pasar Amerika Latin tersebut. Pada Januari-Mei 2026, Indonesia membukukan surplus perdagangan USD187,53 juta, sementara surplus sepanjang 2025 mencapai USD358,54 juta.

Sorotan

  • Ekspor Indonesia ke Peru selama Januari-Mei 2026 mencapai USD225,77 juta, sementara impor hanya USD38,24 juta, menghasilkan surplus USD187,53 juta.
  • Selama 2025, Indonesia membukukan surplus perdagangan USD358,54 juta terhadap Peru, dengan pertumbuhan perdagangan bilateral periode 2021-2025 sebesar 5,51 persen.
  • Indonesia-Peru Comprehensive Economic Partnership Agreement dinilai strategis untuk perluas akses pasar ke Amerika Latin dan Pacific Alliance, menjangkau populasi 649 juta jiwa.

Kinerja perdagangan dan prospek akses pasar

Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan ekspor Indonesia ke Peru pada periode Januari-Mei 2026 mencapai USD225,77 juta, sedangkan impor dari Peru sebesar USD38,24 juta. Selisih tersebut membuat Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar USD187,53 juta pada lima bulan pertama 2026.

Sepanjang 2025, nilai ekspor Indonesia ke Peru tercatat sebesar USD462,97 juta, sementara impor dari Peru mencapai USD104,44 juta. Kondisi itu menghasilkan surplus perdagangan Indonesia sebesar USD358,54 juta.

Budi Santoso juga menyatakan bahwa selama 2021-2025, total perdagangan bilateral Indonesia dan Peru tumbuh 5,51 persen, dengan tren ekspor meningkat 4,60 persen dan tren surplus perdagangan 2,42 persen. Menurutnya, perkembangan tersebut menunjukkan produk Indonesia memiliki daya saing di pasar Peru.

Dampak bagi industri dan strategi kawasan

Ia menjelaskan struktur perdagangan kedua negara saling melengkapi sehingga tidak menimbulkan persaingan langsung dengan industri dalam negeri. Produk ekspor utama Indonesia ke Peru meliputi kendaraan bermotor dan suku cadang, alas kaki, serta peralatan pendingin, sedangkan impor utama dari Peru berupa biji kakao, pupuk mineral, dan berbagai komoditas pertanian.

Menurut Budi Santoso, Indonesia-Peru Comprehensive Economic Partnership Agreement, IP-CEPA, menjadi langkah strategis untuk memperluas akses pasar ekspor Indonesia ke kawasan Amerika Latin. Ia menilai Peru memiliki posisi penting sebagai pintu masuk produk Indonesia ke pasar Amerika Selatan, sekaligus akses ke Pacific Alliance dan Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership, CPTPP, dengan total populasi mencapai 649 juta jiwa.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang BRI KKB Expo, kami mengulas langkah BRI memperluas akses pembiayaan kendaraan melalui pameran serentak di 131 kantor di seluruh Indonesia. Kami menyoroti penawaran bunga mulai 1,8% flat, kemudahan pengajuan di lokasi, serta respons masyarakat yang dinilai positif sebagai upaya memperkuat bisnis konsumer dan mendorong mobilitas.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.