DPR dorong penyidikan anomali harga ayam di rantai distribusi

DPR dorong penyidikan anomali harga ayam di rantai distribusi
Penyidikan harga ayam DPR

Selisih harga daging ayam ras antara tingkat peternak dan konsumen memicu sorotan baru terhadap efisiensi rantai distribusi pangan di Indonesia. Di tengah harga pasar yang mencapai Rp 40.000 per kilogram, peternak disebut masih menerima sekitar Rp 19.000 per kg berat hidup, jauh di bawah harga acuan pembelian produsen.

Sorotan

  • DPR melalui Bambang Haryo Soekartono mendesak penyidikan selisih harga ayam ras antara peternak dan konsumen yang melebar hingga Rp 40.000 per kg.
  • Peternak hanya menerima sekitar Rp 19.000 per kg, di bawah harga acuan Rp 25.000 per kg, sementara harga konsumen tetap tinggi, menandakan distorsi rantai distribusi.
  • Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman menyatakan anomali harga ini menyebabkan inflasi pada komoditas pangan utama dan mengancam usaha peternak.

Desakan penelusuran rantai distribusi

Seperti dilaporkan Kompas.com, anggota Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono meminta dugaan permainan harga oleh pihak perantara dalam distribusi ayam ras diusut hingga ke tingkat pabrik dan distributor. Ia menilai selisih harga antara peternak dan konsumen tidak wajar dan perlu diperiksa untuk memastikan pihak yang menyebabkan distorsi di pasar.

Dalam keterangannya di Jakarta pada Minggu, 18 Oktober 2026, Bambang mengatakan dirinya akan terus mengecek kondisi di lapangan. Temuan itu muncul setelah ia mendapati anomali harga di Pasar Medokan Sawah, Surabaya, Jawa Timur, ketika pedagang mengeluhkan harga daging ayam ras sudah menyentuh Rp 40.000 per kg, sesuai plafon harga acuan penjualan di tingkat konsumen.

Menurut Bambang, tingginya harga jual di pasar justru berimbas pada penurunan omzet pedagang. Di sisi lain, peternak unggas belum memperoleh harga yang diharapkan, setidaknya agar sejalan dengan harga acuan pembelian ayam hidup di tingkat produsen yang berada di kisaran Rp 25.000 per kg berat hidup.

Dampak bagi peternak dan stabilitas pangan

Bambang mengutip pernyataan Menteri Pertanian bahwa harga di tingkat peternak hanya sekitar Rp 19.000 per kg dan berpotensi turun lebih jauh, sehingga pemerintah mematok level itu agar peternak tidak semakin tertekan. Ia menilai kondisi ketika harga produsen rendah tetapi harga konsumen tinggi menunjukkan adanya persoalan serius dalam mata rantai distribusi pangan.

Kepala Badan Pangan Nasional sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman juga meminta dugaan permainan harga dalam rantai distribusi ditindaklanjuti bersama aparat penegak hukum. Menurutnya, anomali harga antara tingkat produsen dan konsumen tidak bisa dibiarkan berlarut-larut karena berpotensi merugikan peternak sekaligus masyarakat sebagai pembeli.

Amran mengatakan inflasi pada telur ayam, ayam, dan beras termasuk yang paling menonjol, meski harga di tingkat produsen berada di bawah harga acuan yang ditetapkan pemerintah. Ia menegaskan anomali harga tersebut dapat ditangani melalui penegakan hukum, seiring meningkatnya tekanan pada sektor pangan dan keberlanjutan usaha peternak.

Dalam ulasan kami sebelumnya tentang Perpres 41/2026 mengenai penguatan logistik nasional, kami membahas dorongan pemerintah untuk mempercepat transformasi logistik lewat perbaikan infrastruktur konektivitas, integrasi dan digitalisasi, serta peningkatan SDM dan penyedia jasa. Kebijakan ini menargetkan penurunan biaya logistik nasional secara bertahap hingga 8% dari PDB agar distribusi barang lebih efisien dan daya saing meningkat. Agenda tersebut relevan sebagai konteks ketika anomali harga komoditas seperti ayam menunjukkan pentingnya pembenahan rantai pasok dari hulu ke hilir.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.