Oksana Koneva

Kemendes PDTT dan PLN EPI perluas rantai pasok biomassa desa di Banten

Kemendes PDTT dan PLN EPI perluas rantai pasok biomassa desa di Banten
Biomassa desa untuk Banten

Pengembangan biomassa berbasis desa kian diposisikan sebagai bagian dari rantai pasok energi nasional melalui kolaborasi pemerintah dan BUMDesa. Inisiatif di Desa Salira, Kabupaten Serang, menandai pengiriman perdana serbuk gergaji ke PLTU Suralaya dan membuka peluang pendapatan baru bagi masyarakat setempat.

Sorotan

  • Kementerian Desa PDTT dan PT PLN Energi Primer Indonesia memulai pengiriman perdana serbuk gergaji BUMDesa Desa Salira ke PLTU Suralaya di Banten.
  • Program ini mengintegrasikan limbah pertanian, perkebunan, dan industri lokal untuk biomassa listrik, mendukung transisi energi dan pemotongan emisi karbon.
  • Ekosistem biomassa desa menciptakan sumber pendapatan baru, berpotensi direplikasi di 326 desa Serang, serta membuka lapangan kerja dan meningkatkan kebersihan lingkungan.

Penguatan pasokan biomassa dari desa

Sebagaimana diberitakan Okezone Economy Indonesia, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi bersama PT PLN Energi Primer Indonesia memperkuat pengembangan ekosistem biomassa berbasis Badan Usaha Milik Desa di Desa Salira, Kabupaten Serang, Banten.

Program ini berjalan melalui pengiriman perdana sawdust atau serbuk gergaji dari BUMDesa di Desa Salira menuju PLTU Suralaya yang dioperasikan PLN Indonesia Power. Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Yandri Susanto menyebut pengembangan ekosistem biomassa sebagai langkah strategis untuk mengoptimalkan sumber daya desa menjadi komoditas bernilai ekonomi.

Melalui kolaborasi dengan PLN EPI, masyarakat desa didorong mengambil peran sebagai pelaku usaha dalam rantai pasok energi nasional. Skema ini mengintegrasikan limbah pertanian, perkebunan, dan industri lokal ke dalam pasokan biomassa untuk pembangkit listrik, sekaligus mendukung transisi energi dan pengurangan emisi karbon.

Dampak ekonomi desa dan peluang replikasi

Yandri mengatakan program tersebut sejalan dengan Asta Cita keenam Presiden Prabowo Subianto, yaitu membangun dari desa dan dari bawah untuk pemerataan ekonomi serta pengentasan kemiskinan. Menurut dia, pengembangan biomassa dapat menciptakan sumber pendapatan baru melalui pemanfaatan sumber daya lokal yang selama ini belum dioptimalkan.

Potensi bahan baku biomassa yang disebut meliputi bonggol jagung, jerami, serbuk gergaji, sabut dan tempurung kelapa, hingga cangkang sawit. Melalui pengelolaan BUMDesa, bahan-bahan tersebut dapat dikumpulkan, diolah, dan dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan biomassa pembangkit listrik PLN.

Ia menilai ekosistem biomassa ini memiliki peluang besar untuk direplikasi di berbagai wilayah Indonesia. Di Kabupaten Serang saja terdapat 326 desa yang dapat dipetakan potensi sumber daya lokalnya, sementara pada tahap awal BUMDesa Bantarwaru di Kecamatan Cinangka dan BUMDesa Kadukempong di Kecamatan Padarincang sudah menjadi bagian dari pengembangan tersebut.

Menurut Yandri, kepastian penyerapan pasokan akan mendorong kegiatan ekonomi desa, membuka lapangan kerja, dan memperbaiki kebersihan lingkungan. Efek lanjutannya, kata dia, tidak hanya berupa tambahan pendapatan, tetapi juga keberlangsungan hidup desa yang lebih bersih dan lebih kuat secara sosial.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang strategi budidaya komoditas ramah air di lahan gambut, kami membahas langkah Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove mendorong penanaman sagu, jelutung, dan nanas yang tetap menjaga kondisi gambut tetap basah. Pendekatan ini dipadukan dengan pembasahan kembali melalui pemetaan kanal dan pembangunan sekat kanal untuk menekan risiko kebakaran hutan dan lahan tanpa mematikan mata pencaharian warga.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.