Gerindra dorong kelanjutan MBG di daerah di tengah kritik pelaksanaan di Jakarta
Perdebatan mengenai program Makan Bergizi Gratis, atau MBG, berlanjut ketika pandangan di Jakarta disebut berbeda dengan respons warga di sejumlah daerah. Andre Rosiade mengatakan banyak siswa dan orangtua di wilayah yang ia kunjungi justru berharap mendapat akses ke program itu, di tengah pengakuan bahwa pelaksanaannya masih memerlukan pembenahan.
Sorotan
- Anggota Fraksi Gerindra DPR RI Andre Rosiade menyatakan permintaan MBG di luar Jakarta tinggi, berbeda dengan penolakan di ibu kota.
- Angka stunting nasional masih 19 persen dan di Sumatera Barat mencapai 24 persen, mendorong perlunya kelanjutan program MBG di daerah.
- Pemerintah telah menutup 1.200 dapur MBG pada masa Naniek S Deyang dan 2.000 dapur pada masa Sudaryono untuk memperbaiki operasional.
Perbedaan respons publik terhadap MBG
Seperti dilaporkan Kompas.com, anggota Fraksi Gerindra DPR RI Andre Rosiade mengatakan penolakan terhadap MBG yang ramai di Jakarta tidak mencerminkan kondisi yang ia temukan saat berkunjung ke berbagai daerah, termasuk Sumatera Barat. Dalam diskusi mengenai dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (22/10/2026), ia menyebut banyak siswa dan orangtua yang ditemuinya justru menantikan program tersebut.Andre mengklaim telah bertemu ribuan siswa dan orangtua saat mengunjungi sejumlah sekolah. Menurut dia, masyarakat di daerah yang ia datangi membutuhkan MBG, berbeda dengan sebagian pandangan di ibu kota yang menurutnya tidak menghadapi tekanan yang sama terkait akses pangan.
Ia juga menceritakan pengalamannya saat mendampingi Prabowo meresmikan jembatan darurat sementara di Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, pada Desember 2025. Andre mengatakan sekitar 20 hingga 30 murid sekolah dasar saat itu menghampiri Presiden untuk meminta agar mereka ikut menerima MBG.
Dampak sosial dan evaluasi pelaksanaan program
Menurut Andre, kebutuhan di daerah menjadi salah satu alasan pemerintah perlu melanjutkan MBG. Ia menyebut angka stunting di Indonesia masih 19 persen, sementara di Sumatera Barat mencapai 24 persen, yang menurutnya memperkuat argumen bahwa program gizi tetap dibutuhkan di luar Jakarta.Meski demikian, ia mengakui pelaksanaan MBG masih memiliki kekurangan, termasuk kasus dugaan keracunan makanan dan pelanggaran standar operasional prosedur. Andre mengatakan pemerintah sedang melakukan pembenahan dan perbaikan atas pelaksanaan program tersebut.
Ia menambahkan pemerintah telah menutup sejumlah dapur MBG yang bermasalah. Menurut Andre, 1.200 dapur ditutup pada masa Naniek S Deyang dan 2.000 dapur pada masa Sudaryono, sebagai bagian dari penanganan atas persoalan operasional program.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang tantangan tata kelola program prioritas Prabowo-Gibran, kami menyoroti kesenjangan antara visi kebijakan dan kesiapan pelaksana di lapangan. Fokusnya antara lain pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) ketika ratusan satuan layanan pemenuhan gizi di Sumatera sempat dihentikan karena tidak memenuhi standar, yang menegaskan pentingnya pengawasan, kepatuhan SOP, dan perbaikan operasional sebelum perluasan program.
Berita Social Policy Terbaru
- Forex
- Crypto