PPGI sebut bunga pinjaman perusahaan gadai tetap stabil di tengah pelemahan daya beli
Tekanan terhadap daya beli masyarakat belum mendorong perubahan suku bunga di industri gadai Indonesia sepanjang 2026. Perkumpulan Perusahaan Gadai Indonesia menyatakan permintaan kredit masih terutama ditentukan oleh kebutuhan nasabah, sehingga pelemahan konsumsi tidak otomatis mengubah kebijakan harga pinjaman.
Sorotan
- PPGI menyatakan bunga pinjaman perusahaan gadai stabil pada kisaran 2,5%–7% hingga 2026 meski daya beli masyarakat melemah.
- Besaran bunga ditetapkan berdasarkan jenis barang agunan, tingkat bunga pasar, biaya dana, tenor kredit, dan risiko barang jaminan.
- Stabilnya bunga pinjaman menunjukkan tekanan konsumsi rumah tangga tidak menyebabkan tambahan beban bunga bagi nasabah dalam waktu dekat.
Kebijakan bunga dan faktor penentunya
Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, Sekretaris Umum Perkumpulan Perusahaan Gadai Indonesia, Holliur Rohman, mengatakan belum ada kenaikan bunga pinjaman yang dibebankan kepada nasabah sepanjang 2026. Ia menilai permintaan kredit gadai tetap bergantung pada kebutuhan masing-masing nasabah, sehingga tekanan pada kemampuan belanja masyarakat tidak serta-merta memicu penyesuaian bunga.Saat ini, bunga pinjaman di perusahaan gadai berkisar antara 2,5% hingga 7%. Besaran bunga itu bervariasi sesuai jenis barang yang dijadikan agunan oleh nasabah.
Menurut Holliur, penetapan bunga juga mempertimbangkan sejumlah faktor, termasuk tingkat bunga yang berlaku di pasar, biaya dana dari sumber pendanaan yang digunakan, jangka waktu kredit, dan risiko yang melekat pada barang jaminan.
Dampak bagi industri gadai dan nasabah
Stabilnya bunga menunjukkan pelaku usaha gadai masih menahan perubahan harga pinjaman meski konsumsi rumah tangga berada dalam tekanan. Bagi nasabah, kondisi ini berarti akses pembiayaan berbasis agunan belum menghadapi tambahan beban bunga hanya karena pelemahan daya beli.Bagi industri pembiayaan gadai, kebijakan tersebut juga mengindikasikan fokus tetap berada pada profil agunan dan biaya pendanaan, bukan semata pada perubahan kondisi konsumsi. Dengan pola itu, pergerakan permintaan kredit gadai dalam jangka pendek masih lebih dipengaruhi kebutuhan likuiditas nasabah dibanding penyesuaian suku bunga.
Dalam ulasan kami sebelumnya tentang prospek laba industri pergadaian hingga akhir 2026, kami mencatat kinerja sektor ini tetap ditopang permintaan pembiayaan, namun sangat dipengaruhi harga emas, biaya pendanaan, persaingan, dan kualitas portofolio. Kami juga menyoroti bahwa lonjakan laba banyak didorong segmen gadai emas, sekaligus mendorong pelaku usaha memperkuat strategi seperti efisiensi operasional, peningkatan layanan, digitalisasi, dan produktivitas cabang.
Berita Income Terbaru
- Forex
- Crypto