ACA nilai risiko asuransi kendaraan listrik tetap terukur di Indonesia
Di tengah ekosistem kendaraan listrik yang masih berkembang di Indonesia, PT Asuransi Central Asia menilai profil risiko segmen ini tetap dapat dikelola. Perusahaan juga mencatat pertumbuhan premi yang terus menguat, seiring kenaikan adopsi kendaraan listrik dan pemakaian yang makin luas di sektor komersial.
Sorotan
- ACA mencatat rasio klaim kendaraan listrik sekitar 53% pada 2025, dipengaruhi oleh penggunaan komersial dan faktor eksternal seperti cuaca.
- ACA mempertahankan premi dan deductible serupa mobil konvensional, dengan penyesuaian pada perluasan jaminan ke bengkel resmi demi kualitas perbaikan.
- Premi asuransi mobil listrik ACA tumbuh dari Rp 94,6 miliar di 2025 menjadi Rp 95,4 miliar per Agustus 2026, menandakan peluang baru bagi industri.
Profil klaim dan penyesuaian perlindungan
Menurut Kontan, Kepala Divisi Motorcar & Miscellaneous ACA Teguh Iman Jaya mengatakan rasio klaim untuk kendaraan listrik berada di kisaran 53% pada 2025. Ia menyebut klaim dipengaruhi oleh meluasnya penggunaan kendaraan listrik di sektor komersial, serta faktor eksternal seperti kondisi cuaca dan alam.ACA menilai dinamika tersebut belum menjadi risiko yang membatasi. Perusahaan masih menerapkan ketentuan dasar yang kurang lebih sama dengan mobil konvensional, baik dari sisi besaran premi maupun deductible, dengan perbedaan utama pada anjuran penambahan klausul perluasan jaminan ke bengkel resmi.
Menurut Teguh, langkah itu diperlukan agar nasabah memperoleh penanganan yang sesuai karena mobil listrik membutuhkan keahlian dan peralatan khusus yang belum tentu tersedia di bengkel umum. Ia menambahkan ada sedikit penyesuaian premi untuk perluasan ke bengkel resmi, namun nilainya dinilai sebanding dengan kualitas perbaikan dan ketenangan bagi nasabah.
Pertumbuhan premi dan implikasi bagi industri
Selama tiga tahun terakhir, ACA terus mengumpulkan dan menganalisis data klaim serta profil risiko kendaraan listrik secara mendalam. Upaya itu diarahkan untuk merumuskan terms and conditions yang lebih inovatif dan lebih sesuai dengan kebutuhan ekosistem kendaraan listrik ke depan.Dari sisi kinerja, perusahaan menyatakan perolehan premi asuransi mobil listrik menunjukkan tren pertumbuhan yang sangat positif. Premi segmen ini tercatat sebesar Rp 94,6 miliar sepanjang 2025, lalu mencapai Rp 95,4 miliar per Agustus 2026, sehingga sudah melampaui capaian setahun penuh pada 2025.
Perkembangan itu menunjukkan adopsi kendaraan listrik mulai membuka peluang baru bagi industri asuransi umum di Indonesia. Bagi pelaku asuransi, kemampuan membaca pola klaim, memperluas jaringan perbaikan, dan menyesuaikan cakupan perlindungan menjadi faktor penting untuk menjaga profitabilitas di tengah pertumbuhan pasar ini.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang inovasi produk asuransi syariah di Jasindo Syariah, kami membahas bahwa keterbatasan variasi produk masih menjadi tantangan sehingga pengembangan manfaat yang lebih relevan dinilai penting untuk menjaga daya saing. Kami juga menyoroti arah inovasi ke perlindungan yang lebih spesifik (seperti rantai nilai halal dan perjalanan ibadah) serta penguatan kanal digital, seiring perusahaan mencatat pertumbuhan kontribusi dan tetap menjaga kualitas risiko melalui empat pilar lini usaha.
Berita Company News Terbaru
- Forex
- Crypto