Kenaikan mobilitas penumpang kereta berlanjut pada 2026, dengan PT Kereta Api Indonesia (Persero) melayani lebih dari 442 juta pelanggan sepanjang Januari hingga Oktober. Capaian ini sudah melampaui total volume penumpang tahunan KAI pada dua tahun lalu dan menunjukkan penguatan permintaan pada layanan reguler maupun wisata.
Sorotan
- PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat lebih dari 442 juta penumpang hingga Oktober 2026, naik 7 persen year-on-year.
- Volume penumpang Januari–Oktober 2026 sudah melebihi jumlah setahun penuh pada dua tahun lalu, mengindikasikan pertumbuhan berkelanjutan.
- Layanan KAI Wisata mencatat kenaikan penumpang 34 persen, didorong permintaan kereta Priority dan Panoramic serta inovasi layanan bernilai tambah.
Kinerja penumpang hingga Oktober 2026
Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat jumlah penumpang menembus lebih dari 442 juta orang sepanjang Januari hingga Oktober 2026, naik 7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan dalam konferensi pers pada Selasa, 3 November 2026, volume penumpang hingga Oktober itu bahkan sudah melebihi jumlah penumpang yang diangkut perseroan selama satu tahun penuh pada dua tahun lalu. Menurut dia, lonjakan tersebut mencerminkan pertumbuhan berkelanjutan pada penggunaan moda transportasi kereta api.
Permintaan layanan wisata ikut menguat
Selain pertumbuhan penumpang secara keseluruhan, layanan kereta wisata juga mencatat kenaikan yang lebih tinggi. Anne menyebut layanan yang dikelola KAI Wisata, khususnya kereta Priority dan Panoramic, mencatat pertumbuhan penumpang sebesar 34 persen.Ia menambahkan minat masyarakat terhadap inovasi layanan seperti Panoramic, compartment, dan luxury menunjukkan potensi perjalanan kereta api sebagai daya tarik wisata terus berkembang. Tren ini memperluas sumber pertumbuhan KAI, tidak hanya dari angkutan massal reguler, tetapi juga dari segmen perjalanan bernilai tambah.
Kabut asap di kawasan Danau Toba yang dipicu kebakaran hutan dan lahan sempat kami soroti sebagai ancaman bagi pariwisata Sumatera Utara, karena dapat menurunkan kenyamanan destinasi dan mendorong wisatawan menunda atau mengalihkan perjalanan. Dalam ulasan itu, kami juga menekankan risiko berantai terhadap pelaku usaha lokal—mulai dari pemandu wisata hingga pengelola transportasi—serta langkah pemerintah melalui larangan pembakaran lahan untuk menekan dampak musim kering dan El Nino.
Berita Company News Terbaru
- Forex
- Crypto