BSI kantongi restu rights issue untuk perkuat modal dan free float
PT Bank Syariah Indonesia Tbk memperoleh persetujuan pemegang saham untuk melaksanakan rights issue melalui PMHMETD II dalam RUPSLB yang digelar pada Jumat, 6 November 2026. Langkah ini membuka jalan bagi penerbitan maksimal 6,8 miliar saham Seri B untuk memperkuat permodalan dan memperbesar porsi saham publik perseroan.
Sorotan
- BSI mendapat restu RUPSLB untuk rights issue hingga 6,8 miliar saham Seri B guna memperkuat modal dan meningkatkan free float dari sekitar 9,9%.
- Tambahan modal dibutuhkan untuk memenuhi proyeksi kenaikan kebutuhan permodalan dari Rp 51,07 triliun (2026) menjadi Rp 64,41 triliun (2027), dengan capital adequacy ratio naik ke 23,31%.
- Penguatan modal diharapkan mempercepat masuknya BSI ke KBMI 4, menjadikannya satu-satunya bank syariah Indonesia di kelompok tersebut dan memperluas akses global.
Rencana penerbitan saham dan target permodalan
KONTAN melaporkan, persetujuan dalam RUPSLB tersebut mencakup penerbitan sebanyak-banyaknya 6,8 miliar saham Seri B sebagai bagian dari strategi BSI memperkuat struktur modal dan meningkatkan free float.Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo mengatakan rights issue menjadi langkah strategis untuk memperkuat fundamental bisnis, memperluas partisipasi investor, serta meningkatkan daya saing perseroan di industri perbankan dan pasar modal. Dalam siaran pers pada Jumat, 6 November 2026, ia menyebut kenaikan free float yang saat ini sekitar 9,9% telah lama dinantikan pasar.
Menurut perseroan, peningkatan kepemilikan saham publik diharapkan membuka peluang investasi yang lebih luas, termasuk bagi investor institusi dan global yang menjadikan tingkat free float sebagai salah satu pertimbangan investasi. Selain meningkatkan likuiditas perdagangan saham, langkah itu juga dinilai berpotensi memperkuat posisi BSI untuk memenuhi kriteria konstituen indeks saham global.
Dampak pada ekspansi bisnis dan industri syariah
BSI menyatakan penguatan modal menjadi semakin penting di tengah dinamika ekonomi global dan domestik, karena bank memerlukan struktur permodalan yang kuat untuk menjaga ketahanan usaha sekaligus mempertahankan kapasitas pertumbuhan. Tambahan modal juga ditujukan untuk memastikan perseroan memiliki capital buffer yang memadai, memperluas kapasitas pembiayaan, dan mendukung pengembangan bisnis berkelanjutan.Kebutuhan permodalan BSI diproyeksikan meningkat dari Rp 51,07 triliun pada 2026 menjadi Rp 64,41 triliun pada 2027. Di saat yang sama, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio diproyeksikan naik dari 20,38% menjadi 23,31%.
Perseroan menilai penguatan kapasitas modal ini dapat mendukung aspirasi untuk masuk kelompok bank berdasarkan modal inti, KBMI 4. Jika target itu tercapai, BSI akan menjadi satu-satunya bank syariah di Indonesia yang masuk kelompok tersebut, sebuah capaian yang dapat memperbesar skala usaha perseroan sekaligus memperkuat perkembangan industri perbankan syariah nasional.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang target transaksi BSI International Expo 2026, kami menyoroti ambisi BSI membukukan transaksi Rp 4 triliun dengan mengubah fokus acara agar lebih mendorong pembelian produk lokal dan memperbesar dampak langsung bagi UMKM. Kami juga mencatat expo tersebut menghadirkan ratusan tenant industri halal serta Business Hub untuk mempertemukan pelaku usaha dengan konsumen dan mitra bisnis, sambil tetap membuka peluang jejaring ke pasar internasional.
Berita Company News Terbaru
- Forex
- Crypto