Daya beli pekerja Banten terus melemah di tengah pertumbuhan ekonomi daerah
Tekanan biaya hidup di Banten kian terasa bagi pekerja meski upah naik selama satu dekade terakhir. Di tengah pertumbuhan ekonomi dan kenaikan indeks pembangunan manusia, temuan terbaru menunjukkan barang yang bisa dibeli rumah tangga justru menyusut.
Sorotan
- Daya beli pekerja Banten menurun sekitar 1,42 persen per tahun sejak 2016 menurut Prof. Arief Anshory Yusuf pada 14 Oktober 2026.
- Pertumbuhan ekonomi Banten tercatat 5,37 persen pada 2025 dan 5,49 persen pada triwulan II 2026, sementara Indeks Pembangunan Manusia 2025 mencapai 77,25.
- Laporan menyoroti bahwa kenaikan pendapatan makro dan rendahnya ketimpangan tidak otomatis meningkatkan kemampuan belanja masyarakat di Banten.
Temuan daya beli dan tanda-tanda perlambatan kesejahteraan
Menurut Kompas, mengutip Kompas Indeks News Indonesia, Prof. Arief Anshory Yusuf, anggota Dewan Ekonomi Nasional, dalam Seminar Badan Pusat Statistik Banten pada Rabu, 14 Oktober 2026, menyampaikan bahwa daya beli pekerja di Banten turun sekitar 1,42 persen per tahun sejak 2016. Gambaran itu menunjukkan kenaikan gaji tidak otomatis memperkuat konsumsi rumah tangga, karena jumlah barang yang dapat dibawa pulang dari pasar justru makin sedikit.Temuan tersebut kontras dengan indikator makro daerah yang masih bergerak positif. Pertumbuhan ekonomi Banten tercatat 5,37 persen pada 2025 dan 5,49 persen pada triwulan II 2026, sementara Indeks Pembangunan Manusia 2025 mencapai 77,25 dan menempatkan provinsi itu di tujuh besar nasional.
Dalam konteks ini, ukuran kesejahteraan tidak sepenuhnya tercermin dari pertumbuhan pendapatan nasional atau output produksi. Artikel ini menekankan bahwa rendahnya ketimpangan tidak selalu berarti kondisi warga membaik, karena pembagian yang lebih merata tetap dapat terjadi ketika kemampuan belanja masyarakat tidak bertumbuh.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang kebijakan harga BBM Pertamina per Oktober 2026, kami membahas penahanan kenaikan BBM subsidi hingga akhir tahun sebagai langkah menjaga daya beli, serta evaluasi berkala untuk BBM nonsubsidi yang mengikuti dinamika harga minyak. Kami juga menyoroti bagaimana gangguan penyaluran—terutama pada BBM bersubsidi—dapat memicu antrean panjang di SPBU dan berisiko mengganggu mobilitas serta aktivitas ekonomi harian.
Berita Income Terbaru
- Forex
- Crypto