Rupiah melemah tipis ke Rp18.168 per dolar U.S. di tengah sorotan pemilu paruh waktu
Pergerakan pasar valas domestik pada Rabu dipengaruhi kombinasi sentimen politik dan data ekonomi dari Amerika Serikat. Rupiah ditutup turun 8 poin atau sekitar 0,04 persen ke level Rp18.168 per dolar U.S., sementara investor mencermati hasil pemilu paruh waktu, perkembangan konflik Iran, dan data ketenagakerjaan U.S. yang lebih kuat dari perkiraan.
Sorotan
- Rupiah melemah tipis ke Rp18.168 per dolar U.S. pada akhir perdagangan Rabu, dipicu ketidakpastian hasil pemilu paruh waktu U.S.
- Partai Demokrat sementara menguasai 51 kursi Senat U.S., menambah kekhawatiran pasar atas arah kebijakan politik dan pergerakan aset berisiko.
- Data JOLTS lowongan pekerjaan U.S. naik ke 7,523 juta pada September, menguatkan dolar U.S. dan menambah tekanan pada rupiah.
Sentimen global menekan perdagangan rupiah
Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, pelemahan rupiah pada akhir perdagangan Rabu terjadi ketika pelaku pasar memusatkan perhatian pada hasil pemilu paruh waktu di U.S. dan perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyatakan salah satu sentimen eksternal utama datang dari penghitungan suara yang masih berlangsung, dengan Partai Demokrat untuk sementara resmi memenangkan Senat U.S. dengan 51 kursi.Dalam risetnya, Ibrahim menilai 51 kursi merupakan ambang mayoritas di Senat U.S., sementara Partai Republik sejauh ini mengantongi 39 kursi dan sebagian suara masih dihitung. Kondisi itu membuat pasar terus memantau arah kebijakan politik U.S. setelah pemilu, yang berpotensi memengaruhi pergerakan aset berisiko dan dolar U.S.
Di saat yang sama, perhatian investor juga tertuju pada upaya mengakhiri konflik antara U.S.-Israel dan Iran. Qatar meningkatkan mediasi untuk mencegah eskalasi serangan setelah pemilu paruh waktu U.S., tetapi seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters pada Selasa bahwa Iran dan U.S. masih jauh dari kesepakatan untuk mengakhiri konflik di antara mereka.
Dolar U.S. mendapat dukungan data tenaga kerja
Tekanan tambahan bagi rupiah datang dari penguatan dolar U.S. setelah data ketenagakerjaan negeri itu melampaui ekspektasi pasar. Laporan JOLTS Job Openings menunjukkan lowongan pekerjaan pada September naik menjadi 7,523 juta, dari 7,19 juta sebelumnya, sekaligus lebih tinggi dari perkiraan pasar sebesar 7,13 juta.Pasar juga mencermati perkembangan operasi militer U.S. di Iran setelah seorang pejabat U.S. pada Selasa mengatakan Washington melancarkan serangan yang disebut bersifat defensif di Pulau Qeshm, dengan sasaran rudal darat-ke-udara yang digunakan terhadap aset U.S. Pejabat lain menyebut serangan itu tampak terbatas dan belum menandakan kembalinya operasi tempur berskala besar.
Presiden U.S. Donald Trump juga mengatakan kepada Financial Times pada Selasa bahwa U.S. tidak memiliki rencana dalam waktu dekat untuk menyerang Iran. Kombinasi ketidakpastian geopolitik dan penguatan fundamental dolar U.S. itu mempertahankan tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang pelemahan rupiah ke Rp17.938 per dolar U.S., kami membahas bagaimana kurs tertekan oleh eskalasi risiko di Selat Hormuz serta inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan. Ulasan tersebut menyoroti kekhawatiran gangguan pasokan energi dan biaya pengangkutan yang melonjak, yang mendorong sikap hati-hati terhadap aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah.
Berita USA Terbaru
- Forex
- Crypto