Cadangan devisa Indonesia naik pada Oktober, topang pembiayaan impor 5,3 bulan

Cadangan devisa Indonesia naik pada Oktober, topang pembiayaan impor 5,3 bulan
Cadangan Devisa Naik Tajam

Posisi cadangan devisa Indonesia bertambah pada akhir Oktober 2026 di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan global dan langkah stabilisasi rupiah oleh Bank Indonesia. Kenaikan itu membuat cadangan devisa setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Sorotan

  • Cadangan devisa Indonesia pada akhir Oktober 2026 naik menjadi USD146,8 miliar dari USD146,3 miliar pada September 2026, menurut Bank Indonesia.
  • Kenaikan cadangan devisa didorong oleh penarikan pinjaman luar negeri pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa di tengah pembayaran utang jatuh tempo.
  • Cadangan devisa setara pembiayaan 5,3 bulan impor, jauh di atas standar internasional tiga bulan, mendukung ketahanan eksternal dan stabilitas makroekonomi.

Pendorong kenaikan cadangan devisa Oktober

Sebagaimana dilaporkan Okezone dengan mengutip Bank Indonesia, posisi cadangan devisa pada akhir Oktober 2026 mencapai USD146,8 miliar, naik dari USD146,3 miliar pada akhir September 2026.

Kenaikan tersebut terutama dipengaruhi oleh penarikan pinjaman luar negeri pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa. Perkembangan itu terjadi di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah oleh bank sentral sebagai respons terhadap ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan posisi cadangan devisa pada akhir Oktober 2026 setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta tetap berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Dampak bagi ketahanan eksternal Indonesia

BI menilai posisi cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal sekaligus menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Ke depan, bank sentral meyakini ketahanan sektor eksternal tetap baik dengan dukungan cadangan devisa yang memadai. Level cadangan ini juga memberi ruang penyangga bagi perekonomian domestik ketika volatilitas pasar global masih tinggi.

Dalam laporan kami sebelumnya tentang intervensi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas rupiah, kami mengulas bagaimana tekanan global—termasuk ekspektasi suku bunga AS yang lebih agresif dan eskalasi geopolitik—mendorong penguatan dolar dan arus keluar dari aset negara berkembang. Artikel itu menyoroti bahwa BI tetap aktif di pasar valas untuk meredam volatilitas ketika rupiah mendekati level Rp18 ribu per dolar AS, di tengah sentimen risk-off yang membatasi ruang penguatan rupiah.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.