Harga minyak melampaui $110 untuk pertama kalinya sejak 2022 seiring eskalasi perang di Iran.

Harga minyak melampaui $110 untuk pertama kalinya sejak 2022 seiring eskalasi perang di Iran.
Minyak melonjak di atas $100 di tengah perang Iran

Harga minyak global telah melonjak di atas $100 per barel karena meningkatnya konflik yang melibatkan Iran menimbulkan kekhawatiran akan gangguan besar pada pasokan energi global. Pasar finansial bereaksi dengan cepat, dengan Dow Jones berjangka turun hampir 900 poin di tengah ketidakpastian geopolitik yang meningkat.

Sorotan

  • Minyak melampaui $110: Harga minyak mencapai lebih dari $110 per barel untuk pertama kalinya sejak tahun 2022, didorong oleh perang Iran.
  • Penutupan Selat Hormuz: Konflik ini menimbulkan kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak, terutama melalui Selat Hormuz yang vital.
  • Volatilitas pasar: Harga minyak telah meningkat secara signifikan, dengan Brent dan WTI mengalami kenaikan 50%-60% sejak konflik dimulai.
  • Reaksi pasar keuangan: Pasar saham, termasuk Dow, S&P 500, dan Nasdaq, mengalami penurunan karena kenaikan harga minyak.

Artikel ini diterjemahkan dari aslinya. Baca versi asli oleh koresponden kami di sini.

Menurut Yahoo!Finance, kenaikan tajam harga minyak mengikuti penutupan Selat Hormuz yang terus berlanjut, salah satu rute paling penting untuk pengiriman minyak global. Sebagian besar ekspor minyak mentah dari Teluk Persia melewati koridor maritim yang sempit ini, sehingga setiap gangguan akan menjadi perhatian utama bagi pasar global.

Harga minyak mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun

Menurut data pasar, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI ) melonjak sekitar 20%, atau $18,30, mencapai $109,30 per barel. Minyak mentah Brent yang menjadi patokan global naik sekitar 18%, atau $16,71, menjadi $109,35 per barel.

Selama perdagangan semalam, kedua patokan tersebut sempat bergerak di atas $110 per barel, menandai pertama kalinya harga minyak mencapai level tersebut sejak bulan-bulan awal invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022. Sejak dimulainya konflik yang melibatkan Iran, harga Brent telah naik lebih dari 50%, sementara WTI telah naik sekitar 60%.

Kenaikan ini merupakan salah satu kenaikan harga minyak tercepat dalam beberapa dekade. Para analis mencatat bahwa laju lonjakan ini menyerupai guncangan energi yang terjadi pada krisis minyak di tahun 1980-an.

Pasar keuangan bereaksi terhadap ketegangan geopolitik

Pasar ekuitas global merespons secara negatif terhadap guncangan energi. Indeks Dow Jones berjangka turun sekitar 900 poin, sementara indeks berjangka yang terkait dengan S&P 500 dan Nasdaq 100 masing-masing turun 1,9% dan 2,3%.

Presiden AS Donald Trump mengomentari lonjakan harga ini, dengan mengatakan bahwa harga minyak jangka pendek yang lebih tinggi adalah "harga yang sangat kecil" yang harus dibayar di tengah-tengah konflik. Sementara itu, perkembangan politik di Iran telah menambah ketidakpastian, dengan laporan-laporan yang mengindikasikan bahwa Mojtaba Khamenei, putra Ayatollah Ali Khamenei, telah ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi negara tersebut.

Menteri Energi AS Chris Wright menyatakan optimisme yang hati-hati, dengan menyatakan bahwa pelayaran melalui Selat Hormuz dapat segera dilanjutkan. Menurut Wright, skenario terburuknya adalah gangguan ini akan berlangsung selama beberapa minggu, bukan beberapa bulan.

Meningkatnya risiko ekonomi global

Konflik ini memberikan tekanan yang semakin besar pada diplomasi global dan stabilitas ekonomi. Sebuah pertemuan antara Donald Trump dan Presiden RRT Xi Jinping diperkirakan akan berlangsung pada 31 Maret-2 April, sementara negara-negara G7 bersiap untuk mengadakan pembicaraan darurat mengenai krisis Timur Tengah.

Harga minyak di atas $100-$110 per barel secara signifikan meningkatkan risiko inflasi bagi perekonomian global. Para analis memperingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan dapat mendorong harga energi lebih tinggi lagi dan memicu volatilitas yang lebih besar di seluruh pasar keuangan.

Dalam beberapa minggu ke depan, para investor akan memantau dengan seksama perkembangan konflik dan setiap kemajuan untuk memulihkan pengiriman minyak melalui wilayah tersebut.

Sebelumnya dilaporkan bahwa minyak mentah Brent mencapai $90 setelah Trump menuntut Iran untuk menyerah tanpa syarat.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.