Harga minyak global naik di tengah ancaman Selat Hormuz

Harga minyak global naik di tengah ancaman Selat Hormuz
Minyak global kembali naik

Menurut Reuters, harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Senin, 23 Maret 2026, setelah ancaman antara U.S. dan Iran terkait Selat Hormuz meningkatkan kekhawatiran pasar atas pasokan energi. Kenaikan itu terjadi ketika Brent menembus USD113 per barel dan WTI melanjutkan penguatan dari sesi sebelumnya. Di Indonesia, pemerintah menyatakan harga BBM subsidi tetap tidak naik meski tekanan harga minyak global meningkat.

Sorotan

  • Minyak mentah Brent naik USD1,01 atau 0,90% ke USD113,20 per barel, posisi tertinggi sejak Juli 2022, dipicu ketegangan Selat Hormuz.
  • U.S. mengancam hancurkan pembangkit listrik jika Selat Hormuz tidak dibuka dalam 48 jam, sementara Iran ancam serang fasilitas energi U.S.-Israel.
  • Pemerintah Indonesia pastikan harga BBM subsidi tidak naik pada Maret 2026 meski harga minyak global di atas USD100 per barel, beban APBN berpotensi meningkat.

Pergerakan harga minyak dan pemicu pasar

Ketegangan di Timur Tengah mendorong pelaku pasar kembali menghitung risiko gangguan pasokan dari salah satu jalur energi terpenting dunia. Dalam laporan yang dikutip, U.S. mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik jika Selat Hormuz tidak dibuka dalam 48 jam. Iran juga mengancam akan menyerang fasilitas energi U.S.-Israel, sehingga konflik kawasan terlihat semakin memanas.

Minyak mentah Brent naik USD1,01 atau 0,90% menjadi USD113,20 per barel pada pukul 22.04 GMT. Level itu datang setelah Brent sebelumnya ditutup pada posisi tertinggi sejak Juli 2022 pada akhir pekan lalu. Sementara itu, West Texas Intermediate berada di USD98,85 per barel, naik 62 sen atau 0,63%, setelah menguat 2,27% pada sesi sebelumnya.

Kenaikan harga ini menunjukkan pasar masih sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik yang dapat mengganggu arus distribusi minyak. Selat Hormuz selama ini menjadi jalur strategis bagi pengiriman minyak global. Setiap ancaman terhadap jalur tersebut biasanya segera tercermin pada harga energi internasional.

Kebijakan BBM subsidi dan dampaknya di Indonesia

Pemerintah Indonesia memastikan harga BBM subsidi tetap tidak naik pada Maret 2026, meski harga minyak dunia bergerak di atas USD100 per barel. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan tekanan harga minyak akan diserap melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, atau APBN. Pernyataan itu menegaskan pemerintah memilih menjaga stabilitas harga energi domestik di tengah gejolak pasar global.

Menurut Purbaya, kebijakan tersebut ditujukan untuk menahan tekanan yang lebih luas terhadap perekonomian dan menghindari kepanikan masyarakat. Sikap ini juga menunjukkan beban fiskal berpotensi meningkat jika harga minyak global bertahan tinggi dalam periode lebih panjang. Bagi Indonesia, keputusan menahan harga BBM subsidi menjadi faktor penting untuk menjaga daya beli dan inflasi.

Dengan kondisi pasar minyak yang masih bergejolak, pelaku usaha dan konsumen akan memantau kemampuan APBN dalam menyerap lonjakan harga energi. Risiko fiskal dapat membesar bila konflik berlanjut dan harga minyak tidak segera turun. Namun untuk saat ini, pemerintah menegaskan skema subsidi tetap menjadi penyangga utama bagi harga BBM dalam negeri.

Dalam laporan sebelumnya, kami membahas bagaimana pasar minyak bertahan fluktuatif di dekat level tertinggi sejak pertengahan 2022 karena meningkatnya risiko eskalasi di sekitar Selat Hormuz. Saat itu, ultimatum 48 jam dari AS kepada Iran dan ancaman serangan balasan Teheran menjaga premi risiko geopolitik tetap tinggi, sehingga pergerakan Brent dan WTI sangat sensitif terhadap perkembangan terbaru di jalur pengiriman strategis tersebut.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.