BPD memperkuat strategi KUB untuk mendorong pertumbuhan 2026

BPD memperkuat strategi KUB untuk mendorong pertumbuhan 2026
BPD dorong pertumbuhan 2026

Menurut paparan publik Bank Jatim dan keterangan para pejabat bank yang dikutip dalam artikel, sejumlah Bank Pembangunan Daerah pada awal 2026 mencatat kinerja yang beragam, sementara sinergi melalui Kelompok Usaha Bank, KUB, mulai diposisikan sebagai langkah untuk memperkuat permodalan dan bisnis di tengah ketidakpastian geopolitik global. Fokus strategi ini muncul ketika sebagian BPD masih mengejar target pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga yang lebih tinggi pada tahun berjalan. Kondisi tersebut menempatkan kolaborasi antarbanka daerah sebagai salah satu instrumen utama untuk menjaga ekspansi dan profitabilitas.

Sorotan

  • BPD DIY mencatat laba bersih Rp 42 miliar per Februari 2026, tumbuh 3,8% yoy, DPK naik 6,5% jadi Rp 14,4 triliun, kredit naik 2,5% jadi Rp 11,1 triliun.
  • Bank Jatim bukukan laba Rp 205,1 miliar pada Februari 2026, melonjak 43,49% yoy, namun pertumbuhan kredit 2,19% masih di bawah target tahunan 6–8%.
  • Skema KUB yang dipimpin Bank Jatim memperkuat modal dan jaringan BPD anggota, dengan keberhasilan ekspansi kredit tahun ini sangat bergantung pada eksekusi konsolidasi dan sentimen geopolitik global.

Target laba dan intermediasi BPD pada 2026

BPD DIY menetapkan target laba 2026 di kisaran 4% hingga 6%, menurut Direktur Pemasaran dan Unit Usaha BPD DIY Raden Agus Trimurjanto. Berdasarkan laporan keuangan Februari 2026, laba bersih BPD DIY tercatat Rp 42 miliar, naik 3,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dana pihak ketiga bank itu mencapai Rp 14,4 triliun atau tumbuh 6,5% secara tahunan, sementara penyaluran kredit naik 2,5% menjadi Rp 11,1 triliun. Untuk tahun ini, BPD DIY menargetkan pertumbuhan DPK sebesar 7% hingga 9% dan kredit 8% hingga 11%.Bank Jatim mencatat pertumbuhan laba yang lebih tinggi pada Februari 2026. Dalam laporan keuangan periode tersebut, laba Bank Jatim mencapai Rp 205,1 miliar, meningkat 43,49% secara tahunan dan sudah melampaui laju target pertumbuhan yang dicanangkan. Namun, dari sisi intermediasi, kredit Bank Jatim baru tumbuh 2,19% secara tahunan menjadi Rp 64,2 triliun, masih di bawah sasaran tahunan 6% hingga 8%.

Sinergi KUB menjadi fokus ekspansi bisnis

Direktur Utama Bank Jatim Winardi Legowo menyatakan strategi utama pada 2026 adalah memaksimalkan sinergi dengan KUB yang dibentuk pada 2025. Dalam struktur itu, Bank Jatim menjadi induk bagi Bank NTB Syariah, Bank Banten, Bank Lampung, Bank Sutra, dan Bank NTT. Menurut Winardi, sinergi pada aspek permodalan telah diimplementasikan secara tuntas, sedangkan tahun ini perseroan berfokus memperdalam sinergi di bidang bisnis dan keuangan. Langkah itu dinilai penting untuk menghadapi ketidakpastian geopolitik global yang ikut memengaruhi perekonomian nasional dan industri jasa keuangan.Skema KUB memberi ruang bagi BPD untuk memperkuat basis modal sekaligus memperluas jaringan industri. Dengan dukungan entitas induk, bank-bank anggota juga berpeluang mempercepat koordinasi pembiayaan dan pengembangan bisnis. Pendekatan ini menjadi relevan ketika sebagian BPD masih membutuhkan dorongan agar pertumbuhan kredit dapat mengejar target tahunan. Karena itu, pelaksanaan KUB pada 2026 menjadi salah satu indikator yang diperhatikan pasar untuk menilai efektivitas konsolidasi sektor perbankan daerah.

Dampak bagi perbankan daerah dan prospek kredit

Analis Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai pertumbuhan BPD pada awal tahun masih perlu ditingkatkan, terutama pada sisi penyaluran kredit. Ia menyebut pembentukan KUB berpotensi mendorong pertumbuhan BPD pada 2026 dan periode selanjutnya, meski dampaknya tidak berlangsung instan dan lebih terasa dalam jangka menengah. Menurut dia, bank-bank yang tergabung dalam KUB memiliki modal yang lebih kuat dan jaringan yang lebih luas untuk menangkap peluang bisnis. Hal itu juga membuka peluang bagi BPD anggota KUB untuk memanfaatkan percepatan program prioritas pembangunan pemerintah, AstaCita, lebih cepat dibandingkan bank daerah yang berjalan sendiri.Myrdal menambahkan prospek pertumbuhan BPD tahun ini masih bergantung pada sentimen konflik global. Ia menilai target pertumbuhan kredit nasional 8% hingga 12% masih realistis selama dampak lonjakan harga minyak dunia tidak berlanjut hingga Mei 2026 dan eksekusi KUB berjalan lancar. Penilaian itu menunjukkan bahwa keberhasilan strategi konsolidasi tidak hanya ditentukan oleh struktur kelembagaan, tetapi juga oleh kondisi eksternal yang memengaruhi permintaan kredit dan stabilitas biaya. Bagi sektor perbankan daerah, kombinasi antara sinergi KUB dan pengelolaan risiko eksternal menjadi faktor utama untuk menjaga momentum pertumbuhan pada 2026.

Kami sebelumnya melaporkan kinerja Bank Jatim sepanjang 2025, ketika laba bersih konsolidasi naik menjadi Rp 1,617 triliun seiring penguatan pendanaan dan perbaikan kualitas aset. Dalam laporan itu, Bank Jatim juga menuntaskan struktur Kelompok Usaha Bank (KUB) dan resmi menjadi induk sejumlah BPD, dengan harapan sinergi permodalan dan standardisasi proses dapat menjadi pijakan untuk memperdalam sinergi bisnis pada 2026.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.