Bank Jatim bukukan laba konsolidasi 2025 di tengah ekspansi kredit

Bank Jatim bukukan laba konsolidasi 2025 di tengah ekspansi kredit
Bank Jatim laba naik tajam

Dalam paparan publik kinerja keuangan pada Senin, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk menyatakan laba bersih konsolidasi tahun 2025 mencapai Rp 1,617 triliun, naik 24,80% secara tahunan. Perseroan menyampaikan pertumbuhan itu ditopang struktur pendanaan yang kuat dan perbaikan kualitas aset, saat persaingan industri perbankan tetap ketat. Pada saat yang sama, bank juga menyiapkan pemanfaatan sinergi antarlembaga setelah finalisasi tahapan Kelompok Usaha Bank dengan sejumlah BPD lain.

Sorotan

  • Total aset konsolidasi Bank Jatim pada 2025 mencapai Rp 168,855 triliun, naik 42,93% secara tahunan, didorong ekspansi kredit konsolidasi 46,65% menjadi Rp 110,503 triliun.
  • Bank Jatim menyelesaikan integrasi struktur Kelompok Usaha Bank, resmi menjadi induk Bank NTB Syariah, Bank Banten, Bank Lampung, Bank Sultra, dan Bank NTT pada 2025 untuk penguatan permodalan dan skala usaha.
  • Jumlah pengguna JConnect Mobile tumbuh 22,40% menjadi 993.972 pengguna dengan total transaksi Rp 65,77 triliun, sedangkan transaksi QRIS naik 47,25% ke Rp 3,94 triliun pada 2025.

Kinerja aset, kredit, dan pendanaan 2025

Total aset konsolidasi Bank Jatim pada 2025 tercatat Rp 168,855 triliun, meningkat 42,93% dibandingkan tahun sebelumnya. Penyaluran pinjaman secara konsolidasi naik 46,65% menjadi Rp 110,503 triliun dari Rp 75,35 triliun. Untuk bank only, penyaluran kredit sepanjang 2025 sebesar Rp 67,2 triliun, tumbuh 4,98% secara tahunan.

Komposisi kredit bank only terdiri dari kredit konsumer Rp 36,54 triliun, naik 6,20%, dan kredit produktif Rp 30,7 triliun, tumbuh 3,55%. Direktur Utama Bank Jatim Winardi Legowo mengatakan fokus manajemen pada 2025 menitikberatkan penetrasi dana murah melalui pendekatan transaction banking dan bisnis berbasis ekosistem. Strategi itu menjadi bagian dari upaya menjaga pertumbuhan di tengah kompetisi yang semakin ketat.

Di sisi kualitas aset, Bank Jatim aktif melakukan perbaikan melalui mekanisme hapus buku Rp 1,03 triliun dengan recovery rate 18,6% atau setara Rp 192 miliar. Perseroan juga melakukan restrukturisasi kredit sebesar Rp 4,17 triliun. Langkah ini menunjukkan bank tidak hanya mengejar ekspansi, tetapi juga menjaga profil risiko pembiayaan.

Sinergi KUB dan dampaknya bagi BPD

Pada 2025, Bank Jatim telah memfinalisasi seluruh tahapan terkait rencana Kelompok Usaha Bank dengan beberapa bank pembangunan daerah lainnya. Dengan penyelesaian itu, Bank Jatim resmi menjadi induk atas Bank NTB Syariah, Bank Banten, Bank Lampung, Bank Sultra, dan Bank NTT. Manajemen menyatakan sinergi tersebut diharapkan membantu aspek permodalan antarbank pada 2026.

Winardi mengatakan perseroan akan memaksimalkan sinergi di bidang bisnis, keuangan, dan dukungan lainnya sebagai enabler. Langkah ini berpotensi memperluas skala usaha Bank Jatim di luar pasar inti Jawa Timur melalui kolaborasi antarbadan usaha milik daerah. Bagi industri BPD, penguatan model kelompok usaha dapat menjadi jalur efisiensi dan pengembangan kapasitas permodalan.

Ekspansi melalui struktur induk juga memberi ruang bagi standardisasi proses dan dukungan operasional di dalam jaringan. Dalam konteks regional, pendekatan ini dapat memperkuat daya saing BPD menghadapi bank-bank yang lebih besar. Namun, efektivitas sinergi tetap akan bergantung pada eksekusi integrasi bisnis dan pengelolaan risiko pada 2026.

Pertumbuhan layanan digital dan jaringan daerah

Pada sisi digital, jumlah pengguna JConnect Mobile pada 2025 mencapai 993.972, tumbuh 22,40% secara tahunan. Total transaksi melalui aplikasi itu mencapai Rp 65,77 triliun, naik 29,55% dari tahun sebelumnya. Kenaikan ini menunjukkan kanal digital semakin penting dalam aktivitas transaksi nasabah Bank Jatim.

Nilai transaksi QRIS Bank Jatim pada 2025 juga mencapai Rp 3,94 triliun, tumbuh 47,25% secara tahunan. Selain itu, bank menjaga kelancaran layanan di berbagai daerah melalui Agen Jatim yang hingga akhir 2025 berjumlah 14.842 agen. Kombinasi pertumbuhan digital dan jaringan fisik tersebut memperlihatkan strategi distribusi layanan yang menyasar perluasan akses sekaligus efisiensi operasional.

Bagi sektor perbankan daerah, capaian ini menegaskan bahwa transformasi digital kini menjadi penopang pertumbuhan bisnis, bukan lagi pelengkap. Penguatan kanal transaksi elektronik dapat membantu penghimpunan dana murah dan memperdalam hubungan nasabah. Pada saat bersamaan, jaringan agen tetap relevan untuk menjangkau wilayah yang membutuhkan layanan perbankan dasar.

Kami sebelumnya melaporkan perkembangan kredit dan pendanaan industri perbankan Indonesia pada awal 2026, ketika bank dan regulator meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko dari lonjakan harga energi, inflasi, dan volatilitas nilai tukar. Dalam laporan tersebut, likuiditas dan permodalan dinilai masih kuat, namun bank mulai memperketat mitigasi risiko melalui stress test sektoral, risk-based pricing, serta penguatan buffer likuiditas dan lindung nilai.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.