Dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com pada Senin, 6 April 2026, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk menyatakan proyek Jalan Tol Ancol Timur, Pluit (Elevated) atau Harbour Road II menjadi bagian dari upaya memperkuat konektivitas Jakarta Utara. Ruas sepanjang 9,7 kilometer itu dirancang menghubungkan Ancol Timur hingga Pluit dan melintasi area penting seperti Tanjung Priok serta Jalan RE Martadinata. Proyek ini diposisikan untuk menambah kapasitas jalan eksisting sekaligus mendukung arus logistik menuju kawasan pelabuhan dan pusat kegiatan ekonomi.
Sorotan
- WIKA dan PT Girder Indonesia mendapatkan kontrak design and build Harbour Road II senilai Rp 5,02 triliun dengan target selesai 31 Desember 2026.
- Proyek jalan layang Harbour Road II memakai teknologi segmented box girder selebar 14,3 meter dan struktur elevated setinggi 38 meter, terpanjang hingga 70 meter tanpa shoring.
- Harbour Road II diproyeksikan mengurangi kemacetan dan meningkatkan efisiensi logistik, mendorong kelancaran distribusi barang ke kawasan pelabuhan Jakarta Utara.
Nilai kontrak dan target penyelesaian proyek
Direktur Utama WIKA Agung Budi Waskito mengatakan proyek tersebut tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga membawa inovasi dan nilai tambah bagi masyarakat. Menurut dia, Harbour Road II menunjukkan kapabilitas perseroan dalam menghadirkan solusi infrastruktur modern di tengah kompleksitas kawasan urban. WIKA menargetkan proyek ini selesai pada 31 Desember 2026.
Harbour Road II dikerjakan WIKA bersama PT Girder Indonesia dengan skema design and build. Nilai kontrak proyek mencapai Rp 5,02 triliun. Perseroan menyatakan penyelesaian tepat waktu dan mutu konstruksi menjadi fokus utama dalam pelaksanaan pekerjaan.
Teknologi konstruksi untuk koridor padat Jakarta Utara
Salah satu ciri utama proyek ini adalah struktur jalan layang bertingkat tinggi hingga sekitar 38 meter di atas permukaan tanah. Ketinggian tersebut menjadikannya salah satu struktur elevated tertinggi di kawasan perkotaan padat. WIKA juga menggunakan teknologi segmented box girder dengan lebar mencapai 14,3 meter.
Perusahaan menyebut teknologi itu termasuk kategori terlebar tanpa ribs, sehingga ditujukan untuk menjaga efisiensi sekaligus kekuatan struktur. Proyek ini juga mencatat bentang steel box girder terpanjang tanpa shoring hingga 70 meter. Pelaksanaannya berlangsung secara end-to-end elevated di tengah keterbatasan ruang dan berdampingan dengan jalan tol eksisting, jalur kereta api, sungai, permukiman, serta bangunan yang sudah ada.
Dampak logistik dan mobilitas kawasan pesisir
Kondisi lapangan yang kompleks membuat proyek ini membutuhkan metode konstruksi berpresisi tinggi, mulai dari bored pile, column pier, pier head, hingga erection girder yang terintegrasi. Dengan pendekatan tersebut, Harbour Road II diproyeksikan tidak hanya menjadi proyek jalan tol, tetapi juga representasi inovasi konstruksi modern di Indonesia. Desain ikonik tol layang ini diharapkan membantu mengurangi kemacetan di koridor utara Jakarta.
Selain itu, keberadaan ruas baru ini diharapkan meningkatkan efisiensi distribusi logistik menuju kawasan pelabuhan. Perbaikan kelancaran arus barang dan kendaraan dinilai dapat mendukung aktivitas ekonomi di pesisir utara Jakarta. Dalam konteks yang lebih luas, proyek tersebut menjadi bagian dari penguatan infrastruktur transportasi untuk kawasan urban yang padat.
Kami sebelumnya melaporkan progres proyek Tol Harbour Road II ruas Ancol Timur–Pluit yang telah mencapai 32,31% hingga kuartal I-2026, sementara pembebasan lahannya masih 45%. Dalam laporan tersebut, WIKA menyoroti tantangan utama di koridor padat—mulai dari pengaturan lalu lintas, kedekatan dengan rel kereta dan permukiman, hingga penyesuaian utilitas bawah tanah—serta menegaskan ketergantungan penyelesaian proyek pada percepatan pembebasan lahan dan relokasi utilitas.
Berita BigBoss Terbaru
- Forex
- Crypto