IHSG diproyeksikan konsolidasi di tengah risiko harga BBM nonsubsidi
Riset PT Indo Premier Sekuritas yang disampaikan Equity Analyst Hari Rachmansyah pada Senin, 13 April 2026, memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan bergerak variatif dengan kecenderungan konsolidasi sepanjang 13 hingga 17 April. Proyeksi itu muncul ketika pelaku pasar menilai ulang risiko global setelah kegagalan negosiasi terbaru antara U.S. dan Iran, sekaligus mencermati rencana penyesuaian harga BBM nonsubsidi serta stabilisasi rupiah di dalam negeri.
Sorotan
- IHSG diproyeksikan konsolidasi karena sentimen negatif global dari ketidakpastian energi di Timur Tengah dan rencana penyesuaian harga BBM nonsubsidi di Indonesia.
- Penyesuaian harga BBM nonsubsidi berisiko mendorong inflasi jangka pendek, terutama sektor transportasi dan logistik, sementara efektivitas koordinasi kebijakan menjadi kunci sentimen pasar.
- Sikap risk-off investor global akibat geopolitik dan kebijakan Federal Reserve yang ketat meningkatkan volatilitas, tetapi peluang selektif muncul di sektor energi berkat ekspektasi harga komoditas tinggi.
Tekanan pasar global dan agenda domestik pekan ini
Hari menyatakan sentimen negatif dari pasar global berasal dari kekhawatiran atas stabilitas pasokan energi di Timur Tengah, terutama di jalur strategis Selat Hormuz. Menurut dia, kondisi tersebut memperpanjang ketidakpastian geopolitik dan meningkatkan kecemasan investor terhadap potensi eskalasi konflik yang dapat memengaruhi pasar energi secara langsung. Di dalam negeri, fokus pasar juga tertuju pada rencana pemerintah menyesuaikan harga BBM nonsubsidi dan upaya menjaga nilai tukar rupiah yang masih berada di kisaran 17.000 per dolar U.S.
Ia menilai penyesuaian harga energi menjadi respons untuk menjaga kesehatan fiskal, meski langkah itu berisiko mendorong inflasi jangka pendek, khususnya pada sektor transportasi dan logistik. Karena itu, efektivitas implementasi kebijakan dan koordinasi antara otoritas fiskal serta moneter menjadi faktor penting bagi arah sentimen pasar domestik. Kejelasan kebijakan dinilai ikut menentukan keberlanjutan aliran dana ke pasar keuangan Indonesia.
Sikap risk-off dorong volatilitas dan peluang sektoral
Ketidakpastian geopolitik saat ini mendorong investor global kembali mengambil posisi risk-off atau mengurangi eksposur pada aset berisiko. Tekanan itu semakin kuat karena ekspektasi bahwa kebijakan Federal Reserve tetap ketat akibat inflasi berbasis energi yang tinggi. Dalam sepekan ke depan, volatilitas pasar diperkirakan masih tinggi, dengan arah pergerakan sangat bergantung pada perkembangan negosiasi geopolitik dan sinyal kebijakan moneter global.
Meski IHSG dibayangi fase konsolidasi setelah reli pada pekan sebelumnya, IPOT melihat peluang tetap terbuka pada sejumlah sektor. Sektor energi disebut menjadi motor penggerak utama seiring ekspektasi harga komoditas yang masih tinggi. Kondisi ini menunjukkan bahwa strategi selektif tetap menjadi pendekatan utama bagi investor di tengah kombinasi tekanan eksternal dan penyesuaian kebijakan domestik.
Kami sebelumnya melaporkan rencana pemerintah mempercepat implementasi program biodiesel B50 yang ditargetkan mulai 1 Juli 2026 setelah uji coba mencapai 60–70 persen. Laporan tersebut menekankan B50 sebagai langkah penguatan ketahanan energi untuk menekan impor solar di tengah konflik Timur Tengah, dengan catatan kesiapan pasokan dan infrastruktur distribusi menjadi kunci. Isu ini beririsan dengan perhatian pasar saat ini pada risiko pasokan energi global dan penyesuaian kebijakan energi di dalam negeri.
Berita Natural Gas Terbaru
- Forex
- Crypto