PI 10 persen migas dinilai perlu difokuskan pada dampak ekonomi daerah, bukan hanya dividen
Pembahasan Participating Interest 10 persen di daerah penghasil minyak dan gas bumi kini semakin sering mengemuka seiring hadirnya proyek-proyek migas besar. Di tengah harapan atas tambahan pendapatan daerah, sejumlah tokoh industri menilai manfaat utama skema ini justru terletak pada efek berganda ekonomi dan kemitraan operasional.
Sorotan
- Pemerintah daerah sebaiknya memprioritaskan efek berlipat ekonomi dari PI 10 persen migas, bukan hanya dividen BUMD, menurut Benny Lubiantara.
- PI 10 persen mendorong investasi migas yang meningkatkan ekonomi lokal melalui okupansi hotel, jasa, serta kesempatan kerja bagi kontraktor dan tenaga kerja setempat.
- PI membawa tanggung jawab daerah menjaga kepastian usaha dan menjadi sarana pembelajaran bisnis energi, bukan sekadar alat memperoleh keuntungan instan, tegas Kardaya Warnika.
Penekanan pada fungsi bisnis dan kemitraan
Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, mantan Deputi Eksplorasi dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas Benny Lubiantara mengatakan pemerintah daerah perlu melihat PI 10 persen secara lebih luas daripada sekadar sumber dividen bagi BUMD. Dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (17/6/2026), ia menilai cadangan migas besar semakin jarang ditemukan sehingga perhatian daerah seharusnya diarahkan pada efek berganda ekonomi dari proyek yang berjalan.Benny menjelaskan efek tersebut terlihat ketika investasi migas masuk dan menggerakkan kegiatan ekonomi lokal, mulai dari okupansi hotel, usaha rumah makan, jasa transportasi, pekerjaan bagi kontraktor lokal, hingga penyerapan tenaga kerja setempat. Dalam banyak kasus, menurut dia, perputaran uang di tingkat akar rumput justru lebih besar dibandingkan dividen yang diterima BUMD pemegang PI.
Ia juga menegaskan pemerintah pusat sejak awal tidak merancang kebijakan PI 10 persen sebagai instrumen pembagian uang semata. Menurutnya, skema itu dibentuk agar daerah memiliki rasa memiliki terhadap proyek migas di wilayahnya dan ikut menjaga kelancaran operasi.
Dampak bagi investasi dan pemahaman daerah
Dalam praktiknya, kontraktor kontrak kerja sama harus menanggung porsi pembiayaan daerah melalui mekanisme carried interest. Namun dari sisi investor, dukungan daerah tetap menjadi faktor penting karena industri migas sangat padat modal dan sensitif terhadap keterlambatan proyek.Gangguan sosial, konflik lahan, maupun hambatan birokrasi dapat menambah biaya ketika produksi belum berjalan, sementara masa kontrak terus bergerak menuju batas waktu. Karena itu, PI dinilai membawa tanggung jawab bisnis bagi daerah untuk membantu menjaga kepastian usaha, selain membuka peluang penerimaan ekonomi.
Pandangan serupa disampaikan mantan Kepala BP Migas Kardaya Warnika, yang menilai banyak daerah masih salah memahami makna PI 10 persen. Ia mengatakan instrumen yang seharusnya menjadi sarana pembelajaran bisnis energi dan transfer teknologi bagi BUMD itu kerap bergeser menjadi alat mengejar keuntungan instan. Menurut Kardaya, jika daerah ingin memperoleh pemasukan yang lebih besar, perjuangannya seharusnya diarahkan ke skema bagi hasil, bukan PI.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang revisi asumsi migas dalam pembahasan KEM-PPKF 2027, kami mengulas kesepakatan Banggar DPR yang menaikkan target lifting minyak dan gas dibanding draf awal pemerintah. Ulasan itu juga menyoroti dorongan parlemen agar investasi hulu migas dan kapasitas produksi domestik ditingkatkan untuk mengejar sasaran 2027, seiring penetapan target pertumbuhan ekonomi nasional.
Berita Natural Gas Terbaru
- Forex
- Crypto