BSI dan ANTAM menandatangani nota kesepahaman pengembangan layanan produk emas dan kolaborasi bisnis di Jakarta pada 13 April, menurut siaran pers yang dikutip dalam artikel. Kesepakatan ini diarahkan untuk mempercepat pembentukan ekosistem emas terintegrasi, memperluas akses investasi emas yang lebih modern, serta memperkuat peran bullion bank di pasar domestik. Langkah tersebut hadir setelah hubungan bisnis kedua BUMN telah berjalan lebih dari satu dekade dan kini masuk ke tahap ekspansi yang lebih luas.
Sorotan
- BSI dan ANTAM memperluas kerja sama perdagangan emas fisik melalui kanal digital dan distribusi ritel, dengan BSI menyerap lebih dari 60% penjualan emas ANTAM kategori pihak berelasi pada 2025.
- Nasabah layanan bullion BSI tumbuh 658% yoy mendekati 1 juta, sementara penjualan emas ANTAM pada 2025 melebihi 37 ton, menandakan permintaan domestik meningkat tajam.
- Sinergi BSI-ANTAM memperkuat pengembangan industri bullion nasional, memperluas distribusi emas berbasis digital, dan mendukung monetisasi emas di sektor keuangan Indonesia.
Ruang lingkup kerja sama dan posisi bisnis emas
Kerja sama baru ini mencakup perdagangan emas fisik logam mulia melalui akses digital, penguatan distribusi ritel, serta sinergi pemasaran, literasi, dan edukasi investasi emas kepada masyarakat. BSI menyatakan momentum ini menjadi titik akselerasi bisnis emas setelah bank tersebut memperoleh izin sebagai bullion bank. Dalam 2025, BSI menyerap lebih dari 60% porsi penjualan emas ANTAM pada kategori pihak berelasi, sementara terhadap total penjualan emas ANTAM porsinya sekitar 11%. Kedua perusahaan juga menyatakan implementasi kolaborasi dijalankan dengan prinsip tata kelola perusahaan yang baik dan tetap mengikuti regulasi yang berlaku.Pertumbuhan nasabah dan pasokan dorong ekosistem nasional
BSI mencatat nasabah layanan bullion mendekati 1 juta, dengan pertumbuhan 658% secara tahunan. Nasabah cicil emas mencapai lebih dari 565 ribu per Maret 2026, atau tumbuh 54,67% dibandingkan setahun sebelumnya. Di sisi ANTAM, perusahaan mencatat produksi emas sekitar 743 kilogram pada 2025, dengan volume penjualan melebihi 37 ton, yang disebut mencerminkan tingginya permintaan pasar domestik. ANTAM menilai kemitraan ini dapat memperkuat rantai pasok nasional sekaligus membuka akses investasi emas yang lebih luas, aman, dan terpercaya.Dampak bagi industri bullion dan distribusi digital
Sinergi BSI dan ANTAM menambah dorongan bagi pengembangan industri bullion nasional yang terintegrasi dan berdaya saing lebih tinggi. Kolaborasi ini juga memperluas jalur distribusi emas melalui kanal offline dan transaksi fisik berbasis digital, sejalan dengan perubahan perilaku investasi masyarakat. Bagi pasar domestik, penguatan hubungan antara produsen emas dan bank syariah memberi dukungan pada monetisasi emas, dari sisi pasokan, distribusi, hingga layanan keuangan berbasis emas. Dengan struktur tersebut, kedua BUMN menempatkan emas sebagai instrumen investasi yang semakin mudah diakses di Indonesia.Kami sebelumnya melaporkan upaya BSI mendorong literasi investasi emas syariah bagi generasi muda melalui akses pembelian emas digital bernilai kecil di BYOND by BSI. Dalam laporan itu, BSI menyoroti pembelian emas mulai sekitar Rp50 ribu, fitur transfer dan cetak fisik, serta lonjakan nasabah bank emas sejak BSI berstatus bullion bank, seiring kolaborasi literasi dengan OJK dan institusi pendidikan.
Berita Gold Terbaru
- Forex
- Crypto