SBY peringatkan risiko ekonomi global dari perang U.S.-Iran

SBY peringatkan risiko ekonomi global dari perang U.S.-Iran
SBY soal risiko perang

Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan dalam forum Supermentor FPCI, menurut siaran YouTube Sekretariat FPCI yang dikutip pada Rabu, konflik antara U.S. dan Iran berisiko menekan banyak negara melalui guncangan ekonomi global. Presiden keenam RI itu menilai dampak paling nyata muncul dari ketidakstabilan di Timur Tengah, ketika gangguan pada jalur energi dan perdagangan dapat merembet ke berbagai kawasan.

Sorotan

  • SBY memperingatkan konflik U.S.-Iran di Timur Tengah berisiko memicu krisis ekonomi global dan menekan stabilitas seperti krisis 2008.
  • Gejolak sejak Februari menyebabkan lonjakan harga minyak dunia usai penutupan Selat Hormuz, meningkatkan risiko biaya energi dan logistik global.
  • Negosiasi U.S.-Iran di Islamabad dianggap krusial untuk meredam volatilitas komoditas dan menjaga stabilitas perdagangan internasional serta pasar global.

Peringatan risiko dan dorongan negosiasi di Islamabad

Dalam pemaparannya, SBY mengatakan perang yang terus berlangsung di Timur Tengah membuat seluruh negara ikut terkena dampaknya. Ia berharap perundingan yang sedang berlangsung antara delegasi U.S. dan Iran di Islamabad, Pakistan, dapat menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri perang. Menurut dia, penyelesaian konflik membutuhkan kompromi, take and give, serta kesediaan kedua pihak untuk mundur satu langkah. SBY juga mengingatkan bahwa konflik yang tidak segera dihentikan dapat memicu krisis ekonomi global seperti yang pernah terjadi pada 2008. Pernyataan itu menempatkan negosiasi saat ini sebagai titik penting bagi pemulihan stabilitas internasional. Ia menilai tidak ada jalan pintas dalam mencapai kesepakatan damai, sehingga proses diplomatik tetap menjadi faktor utama.

Dampak pada energi, perdagangan, dan stabilitas global

SBY menyoroti bahwa gejolak sejak Februari telah mendorong lonjakan harga minyak dunia setelah penutupan Selat Hormuz. Kondisi itu memperbesar risiko terhadap biaya energi, logistik, dan aktivitas ekonomi di banyak negara, termasuk negara yang tidak terlibat langsung dalam konflik. Bagi pasar global, gangguan di kawasan tersebut dapat cepat menjalar karena Timur Tengah tetap menjadi jalur penting bagi pasokan energi. Dalam konteks Indonesia, peringatan itu sejalan dengan kekhawatiran atas tekanan harga pada sejumlah sektor yang sensitif terhadap biaya energi. Jika ketegangan berlanjut, volatilitas harga komoditas dan pelemahan stabilitas perdagangan internasional dapat semakin membebani perekonomian dunia. Karena itu, hasil perundingan antara U.S. dan Iran dipandang penting untuk menahan risiko lanjutan terhadap pasar dan kegiatan usaha.

Kami sebelumnya melaporkan upaya Indonesia mengamankan pasokan minyak mentah dan LPG dari Rusia melalui pertemuan bilateral di Moskow sebagai bagian dari diplomasi energi untuk menjaga ketahanan energi nasional. Laporan itu menyoroti diversifikasi sumber impor, kesiapan perusahaan energi Rusia mendukung suplai dan fasilitas penyimpanan, serta peluang investasi dan pengembangan infrastruktur seperti kilang minyak.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.