Rupiah menguat tipis di tengah risiko geopolitik Selat Hormuz
Pergerakan rupiah pada akhir perdagangan Selasa menunjukkan penguatan terbatas terhadap dolar U.S. di tengah meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar global. Mata uang Indonesia ditutup naik 18 poin, atau sekitar 0,10 persen, ke level Rp18.091 per dolar U.S., sementara sentimen eksternal tetap dipengaruhi ketegangan baru di sekitar Iran dan Selat Hormuz.
Sorotan
- Rupiah menguat tipis didorong sentimen eksternal terkait rencana U.S. menerapkan blokade angkatan laut atas Iran dan biaya 20 persen pada kargo Selat Hormuz.
- Langkah militer U.S. terhadap kapal terkait Iran, dimulai Selasa, menambah ketidakpastian pasar karena Selat Hormuz lintasan seperlima konsumsi minyak global.
- Eskalasi konflik, termasuk serangan drone Iran di Kuwait dan rudal di Selat Hormuz, mendorong kekhawatiran gangguan pasokan energi dan menekan sentimen valuta asing serta komoditas.
Sentimen eksternal dorong perdagangan harian
Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menyatakan salah satu pendorong utama pergerakan rupiah berasal dari faktor eksternal, terutama rencana Presiden Donald Trump memberlakukan kembali blokade angkatan laut terhadap Iran setelah pertukaran militer terbaru dengan Teheran. Trump juga mengatakan Washington akan mengenakan biaya 20 persen pada kargo yang melintasi Selat Hormuz untuk menutup biaya keamanan.Dalam risetnya, Ibrahim menulis militer U.S. akan mulai memberlakukan blokade mulai Selasa dengan menargetkan lalu lintas kapal yang terkait dengan Iran, sambil tetap mengizinkan pengiriman komersial netral melintasi jalur perairan itu. Kebijakan tersebut menambah ketidakpastian pasar karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling penting bagi perdagangan global.
Dampak konflik pada pasar dan energi
Investor tetap khawatir eskalasi militer lanjutan atau aksi balasan dapat mengganggu aliran pasokan dari Teluk, wilayah yang dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak global. Kekhawatiran itu meningkat setelah Iran melancarkan serangan drone terhadap aset U.S. di Kuwait, menyerang sebuah kapal di Selat Hormuz dengan rudal jelajah, dan UEA melaporkan dua kapal tanker mereka diserang di perairan Oman.Ketegangan terbaru ini terjadi setelah saling serang rudal dan drone antara pasukan U.S. dan Iran pada akhir pekan, yang secara efektif mengakhiri kesepahaman rapuh yang dicapai bulan lalu untuk meredakan tekanan di sekitar Selat Hormuz. Teheran telah memperingatkan bahwa aksi militer U.S. yang berlanjut dapat memicu serangan tambahan yang memengaruhi infrastruktur energi kawasan, sebuah risiko yang terus membebani sentimen di pasar valuta asing dan komoditas.
Dalam artikel sebelumnya, kami membahas lonjakan harga minyak ke level tertinggi sekitar satu bulan seiring meningkatnya aksi militer AS dan Iran di sekitar Selat Hormuz. Kami juga menyoroti turunnya lalu lintas kapal tanker serta serangan terhadap kapal yang memperbesar premi risiko geopolitik dan menambah ketidakpastian pasokan energi global.
Berita Iran war Terbaru
- Forex
- Crypto