Rupiah melemah ke Rp18.115 per dolar U.S. di tengah tekanan sentimen eksternal

Rupiah melemah ke Rp18.115 per dolar U.S. di tengah tekanan sentimen eksternal
Rupiah turun ke Rp18.115

Perdagangan Selasa pagi menunjukkan rupiah tetap berada di kisaran Rp18.100 per dolar U.S. di tengah tekanan pasar valuta asing. Pelemahan ini terjadi setelah mata uang tersebut juga ditutup lebih rendah pada akhir perdagangan Senin dan diwarnai ketidakpastian geopolitik dari kawasan Teluk.

Sorotan

  • Rupiah melemah 6 poin atau 0,03 persen ke Rp18.115 per dolar U.S. pada perdagangan pagi Selasa, 14/7/2026, menurut Bloomberg.
  • Analis Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah tetap fluktuatif dengan potensi penutupan antara Rp18.100 hingga Rp18.150 per dolar U.S. hari ini.
  • Meningkatnya ketegangan U.S.–Iran, termasuk penutupan Selat Hormuz, meningkatkan tekanan sentimen eksternal dan mendorong volatilitas nilai tukar Indonesia.

Pergerakan kurs dan proyeksi harian

Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, rupiah melemah 6 poin atau 0,03 persen ke level Rp18.115 per dolar U.S. pada perdagangan pagi Selasa, 14/7/2026, mengacu pada data Bloomberg.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah bergerak fluktuatif pada perdagangan hari ini dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp18.100 hingga Rp18.150 per dolar U.S. Sebelumnya, rupiah ditutup melemah pada akhir perdagangan Senin, turun 44 poin atau sekitar 0,24 persen ke level Rp18.109 per dolar U.S.

Dampak sentimen global pada pasar domestik

Salah satu tekanan eksternal berasal dari meningkatnya ketegangan antara U.S. dan Iran. Teks sumber menyebut kedua negara saling melancarkan serangan rudal dan drone berat, sementara Teheran menargetkan fasilitas U.S. di negara-negara Teluk pada hari Minggu dan mengatakan telah kembali menutup Selat Hormuz yang vital.

Perkembangan tersebut menambah tekanan terhadap sentimen pasar dan berpotensi mendorong volatilitas lanjutan pada nilai tukar di Indonesia. Bagi pelaku pasar domestik, pergerakan rupiah tetap menjadi indikator penting untuk memantau dampak gejolak eksternal terhadap biaya impor, arus modal, dan stabilitas pasar keuangan.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang afirmasi peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan outlook stabil, kami mengulas alasan di balik keputusan tersebut, termasuk prospek pertumbuhan sekitar 5 persen, kebijakan makro yang prudent, dan profil utang pemerintah yang relatif rendah. Kami juga menekankan bahwa status investment grade ini membantu menjaga kepercayaan investor dan akses pembiayaan pemerintah di tengah ketidakpastian global.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.