Ashutosh Sureka

Bank-bank besar menjaga biaya dana di tengah kenaikan BI Rate

Bank-bank besar menjaga biaya dana di tengah kenaikan BI Rate
Strategi bank hadapi BI Rate

Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia mulai diperhatikan perbankan dalam mengelola biaya dana, tetapi dampaknya terhadap pendanaan belum sepenuhnya terasa karena ada jeda transmisi. Sejumlah bank besar masih menahan tekanan itu dengan mengandalkan dominasi dana murah, sehingga margin dan profitabilitas diperkirakan belum tertekan besar dalam waktu dekat.

Sorotan

  • Per Maret 2026, CASA BCA naik 11,2% secara tahunan menjadi Rp 1.089 triliun atau 85,2% dari total dana pihak ketiga, menjaga biaya dana tetap stabil.
  • Porsi CASA BRI mencapai 68,07% dan menurunkan biaya dana menjadi 2,33% pada kuartal I-2026, sementara biaya dana Bank Mandiri menyusut ke 1,97%.
  • Kenaikan BI Rate belum menekan net interest margin karena bank tetap defensif, prioritaskan penguatan dana murah dan pengelolaan likuiditas di tengah ketidakpastian global.

Struktur dana murah menopang biaya pendanaan

Seperti dilaporkan KONTAN, kenaikan BI Rate sebesar 100 basis poin menjadi 5,75% sejak awal tahun belum langsung mendorong lonjakan biaya dana industri perbankan. Bank-bank besar masih ditopang porsi current account saving account, atau CASA, yang tinggi sehingga biaya pendanaan tetap relatif stabil.

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, mengatakan biaya dana BCA hingga kini masih terjaga berkat kekuatan bisnis perbankan transaksi perseroan. Per Maret 2026, CASA BCA mencapai Rp 1.089 triliun, tumbuh 11,2% secara tahunan, dengan porsi 85,2% dari total dana pihak ketiga.

Di BRI, dana pihak ketiga hingga akhir Maret 2026 tercatat Rp 1.555,1 triliun, naik 9,4% secara tahunan. Porsi CASA meningkat menjadi 68,07% dari total dana pihak ketiga, dari 65,77% pada periode yang sama tahun sebelumnya, dan ikut mendorong biaya dana turun menjadi 2,33% pada kuartal I-2026 dari 2,98% setahun sebelumnya.

Bank Mandiri juga mencatat biaya dana 1,97% pada kuartal I-2026, lebih rendah dibandingkan 2,15% pada kuartal sebelumnya. BMRI menargetkan biaya dana tetap berada di kisaran 1,9% hingga akhir tahun, dengan komponen terbesar masih berasal dari deposito sebesar 3,96%, sementara biaya dana giro dan tabungan masing-masing 1,83% dan 0,34%.

Dampak terhadap margin dinilai masih terbatas

Ekonom Makro PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Myrdal Gunarto, menilai penyesuaian biaya dana perbankan tetap terjadi seiring kenaikan BI Rate, tetapi tidak berlangsung seketika. Ia mengatakan tekanan saat ini lebih banyak dipengaruhi ketidakpastian global, termasuk tensi geopolitik, kenaikan harga minyak, dan penguatan dolar U.S., yang membuat perbankan cenderung lebih defensif.

Menurut Myrdal, kenaikan biaya dana masih belum memberi tekanan besar terhadap margin bunga bersih, atau net interest margin, serta profitabilitas perbankan. Ke depan, bank diperkirakan terus mengandalkan penguatan dana murah, menjaga likuiditas, dan mengelola struktur pendanaan secara hati-hati agar kenaikan biaya dana tetap terkendali di tengah suku bunga yang masih tinggi.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang strategi pendanaan Bank Danamon di era suku bunga tinggi, kami membahas langkah perseroan menahan kenaikan biaya dana melalui penyesuaian bunga kredit dan simpanan secara selektif seiring BI Rate naik ke 5,75%. Kami juga menyoroti fokus Danamon memperbesar porsi dana murah (CASA) lewat penguatan transaksi nasabah, termasuk transaksi valas, yang mendorong tabungan valas tumbuh hingga kuartal I-2026 dan membantu menjaga likuiditas.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.